Pentol Gila, jadi Kuliner Khas Suroboyo

321

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kuliner pentol, digemari semua kalangan. Baik karena rasa maupun harga. Namun, ada sebagian orang menginginkan keinginan lidah yang lebih variatif. Berbekal semangat mengangkat pamor bola-bola daging itu, Kharis Akbar Rafsanjani, membuka usahanya yang diberi nama Pentol Gila pada 2012 lalu. Ditangannya, street food itu dibawa ke mall.

Sebelum mendirikan bisnisnya, pemuda asal Menganti Wiyung ini, terlebih dahulu menggali ide ke tiga daerah. Yakni, Gresik, Surabaya dan Madiun. Saat melakukan survey di Gresik, Kharis, mendapat masukan dari konsumen yang gemar kuliner pentol besar, mirip seperti bakso. Demikian juga ketika melakukan studi banding ke Surabaya, banyak yang ingin rasa daging lebih dominan. Hal berbeda justru ditunjukkan konsumen di Madiun yang lebih menyukai pedas.

Kharis Akbar, memegang produk pentol gila. (Foto/ist)

Karena lelaki jebolan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini, tak bisa memasak, akhirnya dia minta bantuan kepada adik angkatnya untuk mengolah pentol sesuai masukan dari calon pembeli saat risert di tiga daerah tersebut. Setelah beberapa kali bereksperimen, diperoleh perpaduan yang pas dan diyakini dapat diterima masyarakat.

“Saya memang tak bisa memasak. Tetapi, aku memiliki bayangan rasa sambalnya harus bagaimana, dan bahannya apa saja,” kata Kharis, kepada bisnissurabaya.com di Surabaya, Sabtu (25/8) pagi. Dari hasil survey, akhirnya pria tampan ini nekad untuk mendirikan usaha kuliner ‘pentol gila’ di Surabaya.

Namun, tak disangka sebelumnya, karena respon konsumen tak seperti yang diharapkan sesuai hasil riset. Pria 28 tahun ini akhirnya menganalisa sendiri reaksi konsumen saat buka usaha pentol untuk pertama kalinya. Dan disimpulkan penikmat kuliner belum terbiasa dengan konsep berbeda terutama pada jajanan yang biasa dijual di pinggir jalan ini.

Maklum, ketika didirikan enam tahun silam, ‘pentol gila’ boleh dikatakan sebagai pelopor bisnis modern di Surabaya. Jika pada tiga bulan pertama sempat bangkrut karena penjualan tak mencapai separuh produksi. ‘’Saya sekarang setiap hari menghabiskan kurang lebih 36 kg daging per hari,’’ kata arek Suroboyo, yang memiliki outlet ‘pentol gila’ lebih dari satu ini sambil menjelaskan omzetnya sekitar Rp 11,6 juta/hari.

Ada empat macam isi yang ditawarkan. Yakni, keju, mozzarella, ranjau (cabai), dan urat. Untuk topping, terdapat varian gila aja (original) dan pedas. Pentol Gila yang dijual dengan harga antara Rp 10.000 – Rp 15.000 per porsi ini juga memiliki paket khas Surabaya. Suro (berbumbu sate pedas) dan Boyo (berbumbu rujak pedas).

Pria kelahiran 1990, itu tak pernah mematikan beragam jenis rasa yang pernah diluncurkan, meski tak terlalu laku dan memilih mempertahankan kualitas agar tak membuat pelanggan kecewa. (fara)