Kisah Ibu Muda Pengrajin Batik Tulis

485

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Batik Nusantara. Kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan menjadi bagian dari budaya Indonesia. Dikenal sejak abad ke-18, menjadi salah satu peradaban raja-raja zaman dulu. Yanti Safira, pengrajin batik tulis di rumah sejak 2009, mendesain sendiri setiap motif karya batiknya. Usahanya berkembang pesat dua tahun kemudian dengan membuka toko dan berjualan secara online.

Wanita asal Madura ini dulu perias wajah. Tetapi, setelah menikah, dia menjadi pengusaha batik, karena mertuanya menggeluti baju yang memiliki motif ini. Namun, tak  ada penerusnya. Perempuan berusia 38 tahun ini memulai usahanya sambil keliling yang akhirnya dapat pesanan dari beberapa kantor, hotel sampai sekarang.

Pengrajin Yanti Safira, sedang berada di stand toko miliknya. (Foto/ist)

Penjualan batik miliknya tidak hanya sebatas pada penjualan di dalam kota, tetapi juga dilakukan di luar kota. Bahkan antar provinsi. Misalnya, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Timur (Kaltim), Kendari, Palu dan Banjarmasin. Ibu dua anak ini kemudian bercerita tentang bagaimana cara pembuatan batik tulis yang benar.

Mulai dari membuat sketsa, menggambar tulis dengan malam. Setelah itu dicelup lalu ditutup dengan warna yang diinginkan. Proses selanjutnya dicelup lagi lantas dilorot untuk menghilangkan lilin. Yang terakhir, dicuci bersih, kemudian dijemur. Tak berapa lama, hasilnya baru terlihat.

Ibu muda yang terlihat manis ini memiliki hobi berbelanja. Perempuan yang sedang menantikan anak keduanya kini memiliki empat pengrajin yang dinilainya cukup handal. Sehingga ia tak kelelahan jika sedang banjir pesanan. Menyinggung modal awal, wanita yang berhijab ini menyebut angka Rp 350.000 dan mendapatkan lima batik.

Setelah Sembilan tahun berlalu, kini usaha yang dirintis Yanti Safira telah memiliki omzet sekitar Rp 5 juta per bulan. Sementara, harga batiknya dipatok dengan harga minimal Rp 75.000 dan yang paling mahal hingga Rp 1 juta. (nisa/amel)