Bersama Bank Jatim Wujudkan Jatim Bebas Kemiskinan & Pengangguran

36

(bisnissurabaya.com) – Memprihatinkan jika kita lihat data BPS membuktikan, angka disparitas antara penduduk kaya dan miskin  di Jawa Timur masih sangat  tinggi. Ini bisa kita cermati di  data BPS per-September 2017 yang mencatat,  jumlah warga  miskin di Jawa Timur mencapai 4.405,27 ribu jiwa (11,20 persen). Jumlah ini menunjukkan kategori penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. 17 dari 39 kota/kabupaten yang ada di Jatim terdapat penduduk denganstandar kemiskinan di atas rata rata kemiskinan provinsi. Ini masih ditambah problem jumlah  pengangguran di Jawa Timur yang pada Februari 2018 mencapai angka 809,45 ribu orang. Meskipun data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menunjukkan kecenderungan menurun. Dari  4,00 persen  menjadi 3,85 pada Februari 2018.  Jumlah ini didominasi oleh lulusan SMK sebesar 9,08 persen, TPT pendidikan Diploma I/II/III sebanyak 7,09 persen, lulusan Universitas  5,85 persen. TPT terendah lulusan SD yakni,  1,77 persen.

Deretan angka angka kemiskinan dan pengangguran ini membuat kita semakin miris dan mengelus dada. Tetapi, tren positifnya, di saat yang sama perkembangan UMKMdi Jawa Timur juga  mengalami pertumbuhan signifikan tiap tahunnya. Kehadiran UMKM telah terbukti ampuh mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran  secara drastis di Jatim. Karena sifatnya yang padat karya sehingga UMKM mampu menyerap tenaga kerja, memberikan  peluang meningkatnya tingkattaraf  hidup dan  kesejahteraan masyarakat  di Jatim. Ditambah pesatnya program program pemberdayaan dan penguatan UMKM yang terus digalakkan pemerintah, mengingat UMKM industri kreatif efektif  dalam mendongkrak perekonomian nasional yang melesu karena imbas ekonomi global.Dibanding komoditas, UMKM industri kreatif paling potensial untuk mendongkrak kontribusi PDB melalui pasar dan jangkauan ekpor yang lebih luas.

Kontribusi UMKM secara nyata juga terindikasi dari  besarnya kontribusi kinerja UMKM Non Pertanian sebesar 4,61 Juta dan4,98 Juta dari UMKM Pertanian (total 9,59 juta) UMKM  yang ada di Jatim(Sensus Ekonomi 2016). Untuk  Industri pengolahan dan perdagangan Jatim (secara) nasional dalam kurun lima tahun terakhir yakni 2013-2017, mengalami pertumbuhan sangat tinggi dan meningkat  19,91 persen. Tak bisa dipungkiri jika Usaha  Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi peyangga  perekonomian  Jawa  timur. UMKM merupakan  sumber pendapatan mayoritas penduduk Jatim dan sektor ini telah mampu mengurangi jumlah angka pengangguran di Jatim berkurang secara drastis. Karena mampu menyerap tenaga kerja secara efektif. Dari jumlah angkatan kerja 20,16 Juta (2016) mampu diserap mencapai  sektor UMKM Non Pertanian dan Pertanian sampai 18,95 juta,  sehingga angga pengangguran tersisa  838.496 orang  atau 4,21 persen, saja.  Kontribusi UMKM terhadap PDRB Jatim pada 2016 mencapai  57,52 persen

Masifnya pergerakan pertumbuhan UMKM memang tak lepas dari program program pemberdayaan yang dicanangkan pemerintah. Sesuai data BPS per  1 Juli 2018,  Jumlah populasi kita yang berjumlah 265,015,300 orang,  yang terbesar dunia ke empat  setelah China (1,393,460,000), India(1,335,540,000), Amerika(327,641,000) ditambah potensi pelaku UMKM yang mencapai angka 8,2 juta secara nasional dan punya kecenderungan terus mengalami peningkatan dan pertumbuhan, perkembangan UMKM di indonesia mengalami pertumbuhan hingga  mencapai 4,6 persen pertahunnya. Jika ini terjadi, bukan hal tak mungkin ketika  upaya mensinergikan  seluruh kekuatan UMKM  yang kita miliki dalam satu platform online akan mampu menggulingkan kekuatan raksasa e-commerce dari China, Alibaba atau India. UKM di India yang dikenal pesaing ketat Tiongkok, bisa berkembang pesat  mencapai 7 persen per tahunnya karena keterbukaan dalam hal perdagangan dan investasi dan menggandeng swarsta dalam pembangunan perekononian negara.  Ditambah tersedianya akses tehnologi memadai untuk  menginternasionalisasikan produk produk UMKM merebut pangsa pasar global.

UKM menjadi kekuatan utama di pasar China. 80 persen lebih  atau sekitar 73,28 juta   yang terbagi dalam  perusahaan berjumlah 23,28 juta dan bisnis perorangan sebanyak 50 juta. Peran UKM juga yang mengantar China menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. 6,7 persen pada kwartal II, 2018. Kiatnya, China mampu menghimpun seluruh UKM di negeri itu dalam satu wadah  pola marketing digital secara directori bisnis. Dan pemerintah China terus mendukung untuk terus meningkatkan daya saing produk China di pasar global plus pusat layanan merek dan hak paten, termasuk kemudahan dalam pengurusan jaminan Hak Kekayaan Intelektual(HKI).

Belajar dari China, pesatnya fenomena UMKM telah menjadi tren aktifitas baru di beberapa daerah di Indonesia, utamanya masyarakat di Jatim. Mesti produk produk UMKM kita terkenal unik, antik, juga etnis dan punya kekhasan tersendiri, tetapi pelaku masih mengandalkan bahan baku yang bersumber dari sumber daya alam Indonesia. Karena tingginya peminat produk produk kerajinan Indonesia berimplikasi terhadap pertumbuhan tingkat produkti  dan tingginya penyerapan bahan baku yang saat ini  jumlahnya terbatas. Tidak balance-nya antara supply dan demand akan menyebabkan munculnya masalah rumit dan complicated yang berimbas kepada terganggunya produktifitas UMKM. Sementara China mensuplay bahan baku dari impor negara negara ketiga dengan harga murah.

Maka penting untuk terus menstimulasi dan menumbuhkan kreatifitas dan inovasi, agar  UMKM kita mampu menyuguhkan produk yang fariatif , terus berkembang agar mampu memenuhi selera konsumen global dan merajai pangsa pasar global. Yang membedakan UMKM kita tidak sepesat di China,? Pertama , kita masih terkendala banyak faktor. Kita contohkan di China dan India bunga kredit pinjaman untuk pelaku UKM, sangat rendah,  dua negara ini mematok bunga di kisaran  5%,  di Indonesia 12-13 persen.  Tentu saja,  agar perkembangan UMKM sesuai keinginan bersama adalah, support  pemerintah  dalam bentuk penataan infrastruktur yang akan mempengaruhi kelancaran pola distribusi barang, Kemudian, kemudahan di sektor pembiayaan. Juga  kredit perbankan dengan bunga rendah menjadi stimulan utama untuk memberi suntikan modal bagi pelaku UMKM. Penting adanya jaminan konsistensi kebijakan dan dukungan pemerintah yang akan melindungi kesinambungan kemudahan kemudahan ini  agar UMKM kita survived dan berkembang pesat. Selain kelemahan  faktor packaging produk UMKM kita yang belum bisa bersaing , maka perlu ditingkatkan program program pelatihan dan edukasi. Termasuk pelatihan terkait problem pemasaran dengan menggunakan fasilitas teknologi

Komitmen pemerintah provinsi Jawa timur dalam upaya menggenjot pembangunan perekonomian Jawa Timur melalui koperasi, UMKM dan ekonomi kerakyatan, terus dlakukan dengan mengoptmalisaasi program program pemberdayaan. Keterpihakan pemerintah bisa dilihat dari kontribusi disahkannya pemberlakuan PPh final UMKM 0,5 persen yang menjadi bagian dari  Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Dari Usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak.PP Nomor 23 Tahun 2018 menjadi trigger  untuk menstimulasi  pelaku UMKM semakin aktif berperan aktif dalam kegiatan ekonomi formal. Dengan beban pajak yang semakin kecil, diharapkan pelaku UMKM lebih leluasa dalam mengembangkan usaha dan berinvestasi.

Sampai saat ini, ada  sekitar 30.000 produk UMKM  Jatim yang mampu menembus pasar ekspor Eropa dan Asia. Produk ini dihasilkan oleh  UMKM Jatim yang berjumlah 6,8 juta unit.  Dari jumlah ini produk UMKM Jatim yang paling banyak masuk ke pasar luar negeri, adalah produk olahan makanan dan minuman dengan kontribusi sekitar 60%. Beberapa produk kita yang sudah mengglobal adalah kerajinan anyaman bambu dari Bambu Indah Craft  milik Sorkatno dari Trenggalek  yang sukses menembus pasar Brunai Darrusalam dan  Korea Selatan. Juga produk tas dan sepatu dari bahan kulit merek  ‘Lee Choir Collection’  milik H Muhamad Choiri yang juga dikenal cukup luas di mancanegara.

Untuk meningkatkan pertumbuhan UMKM , pemprov Jatim melalui Bank Jatim  tahun ini menggelontorkan anggaran senilai  1,7 trilyun untuk kredit UMKM . Dana ini akan disalurkan kepada pelaku UMKM di Jatim melalui beberapa Bank Rakyat Daerah Jatim. Target utamanya, diharapkan mampu mendongkrak  kreatiftas dan produktifitas UMKM Jatim sehingga mampu menjadi solusi  peningkatan ekonomi  masyarakat menuju Jawa Timur bebas kemiskinan dan pengangguran. (noura)