Murphy J Sembiring, saat presentasi tentang pentingnya Bahasa Mandarin. (foto/nanang)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Indonesia dan Tiongkok merupakan negara yang memiliki hubungan erat. Hubungan yang dibangun bukan hanya diplomatik bilateral semata, tetapi juga perdagangan dan kebudayaan. Eratnya hubungan antara kerajaan Tiongkok dengan kerajaan di nusantara terus berlanjut pada zaman pemerintahan modern.

“Sejak Republik People Of Tiongkok/Republik Rakyat Tiongkok berdiri 1948 mengalami pasang surut hubungan diplomatik dengan Indonesia, hingga akhirnya pulih kembali di tahun 1980,” kata  Rektor Universitas Widya Kartika (Uwika) Associate Prof Dr Murphy Jhosua Sembiring, SE, MSi kepada Bisnis Surabaya Minggu (12/8) kemarin.

Rektor Uwika Associate Prof Dr Murphy Jhosua Sembiring, SE, MSi. (Foto/nanang)

Pada 2001, Tiongkok bergabung dengan World Trade Organization (WTO) atau organisasi perdagangan dunia. Dan Tiongkok terus berupaya untuk memenuhi komitmennya dengan mendorong keterbukaan kerjasama perdagangan barang dan jasa dengan dunia luar pada tingkat yang lebih tinggi. Dalam confrence strategic partner yang dilaunching sejak 2015,  Pemerintah Tiongkok menyebut Indonesia merupakan 65 negara yang tercakup dalam penyatuan pasar besar perdagangan internasional sebagaimana tercantum dalam gagasan one belt, one road/satu sabuk, satu jalan.

“Proyek kerjasama Tiongkok dan Indonesia di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Utara merupakan aplikasi dari kerjasama tersebut,” jelas Murphy, yang juga seorang ekonom ini. Dibidang perekonomian, banyak perusahaan Tiongkok yang menanamkan modalnya di Indonesia. Seperti: Huawei, Haier, Petro China, Conich, dan Lenovo.

Sementara di sektor pariwisata, 120 juta turis Tiongkok berwisata keseluruh dunia menghabiskan beaya 1500 US $ per orang. Tahun 2017, hanya 2 juta orang turis Tiongkok ke Indonesia. Saat ini, kendala bahasa masih menjadi persoalan tersendiri dalam  mengaplikasikan kerjasama kedua negara. Bulan lalu bertempat di Universitas Sumatera Utara  diadakan pertemuan antara perwakilan Tiongkok, Taiwan, Belanda, dan Indonesia membahas penerapan bahasa mandarin dimasing-masing negara.

“Penyebab kendala penyebaran Bahasa Mandarin di Indonesia antara lain kurangnya minat, tidak jelasnya masa depan, dan banyak guru tidak kompeten terutama guru lokal,” tambah Murphy, yang juga aktivis multi talenta ini. Jika banyak orang Indonesia yang paham berbahasa mandarin, maka memudahkan kegiatan perdagangan, dan lebih mudah memahami serta menyerap ilmu pengetahuan dan teknolgi yang dikembangkan Tiongkok pada 2025 mendatang.

Seperti peluru kendali antar Benua dengan jarak tembak 400 km, telescope dengan jarak pandang 500 meter, quantum satelit, kapal induk, space station, pesawat siluman j 200, super computer, pesawat besar. Uwika bertekad mempercepat penguasaan Bahasa Mandarin oleh masyarakat dengan melakukan sosialisasi kepada generasi muda tentang prospek karir berbasis Bahasa Mandarin, pemberian beasiswa belajar Bahasa Mandarin bagi putra daerah, dan meningkatkan kesejahteraan guru Bahasa Mandarin. (nanang)