Sikap Perkasa dan Cerdas

34

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – SEJAK 10 Agustus lalu, diawalilah “Tahun Politik” dalam usaha perebutan suara rakyat untuk menentukan jabatan Presiden dan Wakil Presiden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Disatu pihak capres Ir. Joko Widodo dan cawapres KH Ma’ruf Amin. Pihak pesaingnya ialah capres Prabowo Subianto dan cawapres Sandiaga Uno. Merebut suara rakyat itu harus melalui kampanye politik untuk menawarkan diri masing-masing berikut program-program politik dan kerja. Tujuannya agar “penawaran” mereka disukai, berikut dirinya disenangi dan terlebih dicintai. Persaingan itu bisa memanas.

Terutama yang dilakukan pengikut kelompoknya. Yakni, anggota dari partai-partai politik ‘pengusung’ calon masing-masing. Namun, itulah dampak negatif “Tahun Politik”. Yang jelas, tidak dibolehkan dan tidak sopan kalau dari kedua belah pihak saling mencerca atau mengumpat. Persaingan dalam alam demokrasi-Indonesia haruslah berpijak pada peradaban (adat istiadat) bangsa kita. Sopan dan santun, saling menghormati serta bijaksana. Apabila para pesaing ada yang bersikap bertentangan dengan adat-istiadat yang merupakan budaya bangsa kita, pasti akan menimbulkan reaksi keras dari rakyat. Sekurang -kurangnya rakyat yang tidak senang atas perbuatan demikian, bakal bertindak untuk tidak bakal memilih calon presiden/wakil presiden kelompok tersebut.

Untuk bertindak sebagaimana yang diharapkan tersebut, maka individu-individu yang menjadi calon presiden dan wakil presiden hendaknya orang-orang yang “perkasa” dan “cerdas”. Sebenarnya, ungkapan tersebut berasal dari pernyataan pendiri dan tokoh PAN, Amien Rais, pada Juli 2018. Cuma tidak dijelaskannya, siapa yang “disindirnya” dan apa uraian makna perkasa dan cerdas tersebut. Meskipun bisa diraba-raba siapa yang dimaksud, karena dia dan partainya adalah bersilangan dengan kelompok parpol pendukung Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin.

Saya sependapat dengan pikirannya.Tetapi dalam pengertian yang luas dan dalam pikiran sehat. Makna “perkasa”, bukanlah individu calon itu harus bertubuh tegap, berjalan tegap,mampu berbaris dan memberi salut dengan gaya militer. Tetapi sikap perkasa ditunjukkan dari disiplin yang bersangkutan dan tegar dalam memutuskan sesuatu keputusan yang bermanfaat bagi masyarakat demi kemajuan pembangunannya. Keperka-saan demikian tidak lepas dari hasil pemikiran yang cerdas. Bukan keputusan yang didasari pemikiran dan perhitungan yang ngawur ataupun serba coba-coba.

Bagaimana dengan kondisi calon-calon presiden dan wakil presiden tahun 2019 itu?

Bagi Jokowi selaku Presiden dan Juusf Kalla selaku Wakil Presiden tahun 2014-2019, prestasi kerjanya menunjukkan “keperkasaan’ dengan terobosan yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam dua kali masa jabatannya. Yakni mengutamakan unsur infra-struktur yang di darat maupun di laut, berupa jalan tol Jakarta-Surabaya-hingga Banyuwangi, Jakarta-Bandung, Palembang-Medan dan jalan-jalan raya di luar Jawa. Hubungan laut,– teurtama untuk barang komoditi masyarakat,– dibuat Tol Laut yang menghubungkan antara Jakarta hingga Papua, sehingga dapat menurunkan harga-harga bahan kebutuhan pokok rata-rata 10 persen. Demikian pula dalam sarana transportasi, terutama perkereta apian. Dalam menjaga keberadaan dan stabilitas keuangan, dipercayakan kepada para profesionals terdiri dari Menko, Menteri Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia.

Pendek kata, dalam banyak hal kewajiban Pemerintah ditangani dengan berani tetapi cermat dan diserahkan kepada pejabat-pejabat yang profesionals dan berdedikasi bagi pembangunan negara dan masyarakat kita. Belum lagi dalam pola inspeksi yang dilakukan oleh presiden, wakil presiden dan para menteri di sektor pembangunan masing-masing. Pola yang dikategorikan sebagai “blusukan”. Keberanian lain dari presiden, tidak ragu-ragu melakukan reformasi susunan menterinya yang dianggap kurang cocok atau kurang berprestasi. Terutama kalau sudah menyangkut perekonomian rakyat. Begitu kira-kira yang disebut sebagai tindakan yang “perkasa” juga “cerdas”.Tidak salah, slogan kampanye capres/cawapres sekarang adalah “kerja”.

Adalah bijaksana buat Amien Rais yang semula santar dicalonkan sebagai capres atau cawapres, dan banyak kalangan menyatakan kalau dia kepingin berkuasa kembali (dulu adalah Ketua MPR), tiba-tiba saja kehendak demikian tidak terdengar lagi. Syukur semua anggota kelompoknya memahami,. bahwa tidak akan mampu memenuhi persyaratan yang pernah diucapkan oleh Amien Rais itu. Artinya, perkasa tidak pernah dilakukan, cerdas pun tak terbukti.

Kita tunggu saja rakyat menyaksikan realita yang ada dalam pembangunan negara dan rakyat pada era kehidupan serba elektronik kini. Sudah banyak masyarakat yang tidak lagi terbius oleh semboyan-semboyan atau slogan-slogan serba heibat, namun meragukan, apakah bisa dilaksanakannya. Jadi, mereka melihar realitas yang yang sedang berlangsung sekarang, serta bagaimana orang yang ingin dipilihnya. Kecenderungan baru, rakyat melihat figur dari yang akan dipilihnya. Bukan mendasarkan pada partai politiknya. Sebesar apa pun parpolnya atau segalak apa pun kelakukan parpol itu, kalau figur yang dicalonkan tidak berkenan di hati rakyat, maka sangat kecil harapan bisa dipilihnya.

Kira-kira begitulah sikap perkasa dan cerdas yang harus direalisir oleh pemenang jabatan presiden dan wakil presiden mendatang. Bukanlah tingkah lakunya yang berlagak perkasa dan kecerdasan yang pas-pasan saja! (amak syariffudin)