Siti Romlah : Menangkap Peluang Jadi Uang

103

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – TELATEN, ulet, menjadi kunci sukses berbisnis. Meski terkadang sepele, sebuah usaha bisa melejit. Seperti dialami Siti Romlah, pemilik keripik pisang “So Crispyna” asal Dusun Sumberurip, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung. Tak disangka, dari usaha yang terkesan sepele, mengantarkan wanita kelahiran Banyuwangi 2 Mei 1970 ini ke pintu sukses.

Di tengah kesibukannya merintis usaha keripik, Siti Romlah juga rajin berbagi ilmu. Menjadi tutor berbagai pelatihan wirausaha di dalam maupun luar Banyuwangi.

Ihwal merintis usaha keripik pisang ini lantaran melimpahnya bahan baku pisang di desanya. “Kebetulan, rumah saya berada dekat kawasan hutan dimana potensi utama adalah pisang,” ungkap istri Susanto ini kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini. Sebelumnya, Romlah diberikan kesempatan Desperindag Banyuwangi mengikuti pelatihan mengolah keripik buah di Jember dan Malang. Harapannya, bisa mengembangkan usaha.

Romlah saat mengikuti seminar

Usai, mengikuti pelatihan, Romlah merintis usaha keripik pisang. Berangkat dari modal Rp 100.000. Bahan baku utama pisang raja nangka. “Pisang jenis ini selain bahannya melimpah, harganya murah juga sangat cocok diolah menjadi keripik,” ucapnya.

Kini, usaha keripik miliknya  turut meningkatkan nilai jual pisang. Sebelumnya, pisang raja nangka, tak laku dijual. Bahkan, jika ada pembeli, ditawar dengan harga murah. Romlah merasa prihatin terhadap nasib petani pisang di desanya.

Di awal usaha, Romlah dibantu 2 orang tenaga kerja. Nama “So Crispyna: menjadi brand usahanya. Sesuai rasa keripiknya yang krispi. “Kebetulan suami guru bahasa Inggris,” selorohnya.

Keripik pisang krispi buatan Romelah.

Belum genap satu bulan, usahanya melambung. Romlah mengaku belum sampai turun langsung memasarkan dagangannya, sudah banyak para reseller yang berminat menjualkan produknya.

Kini, selain dipasarkan di toko, mal, swalayan, pemasaran keripik pisang buatannya kian meluas ke berbagai kota. Seperti Banyuwangi, Jember, Surabaya, Bali, Kalimantan dan Papua.

Rasa keripik buatannya selain enak, krispi, dikemas menarik. Ada tiga varian rasa keripik pisang yang ditawarkan. Rasa manis, balado dan rasa bawang.

Romlah mengatakan, dalam mengolah keripik, menggunakan pisang tua dan pisang kualitas super. Jenis pisang raja nangka dipilih. Selain renyah, memiliki aroma harum, tak mudah hancur saat diolah. Untuk mendapatkan tekstur yang krispi, dia melakukan 2 kali penggorengan.

Bersama Tommy Soeharto.

Untuk mendapatkan bahan baku pisang, Romlah dibantu 6 tenaga suplayer pisang. Selain dari kawasan hutan setempat, bahan pisang didatangkan dari kawasan Sarongan, Kalibaru dan Jember. Pisang jenis ini dibeli seharga Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per sisir.

Sekali produksi, Romlah bisa menghabiskan 100 tandan pisang, sekitar 1 -3 kuintal keripik, tergantung momen. “ Biasanya sebelum puasa, permintaan keripik kian banyak,” ungkapnya. Keripik pisang ini dijual seharga Rp 40.000 – Rp 50.000, per kilogram, tergantung rasa. Rasa balado dan bawang sedikit lebih mahal.

Selain keripik, Romlah juga memproduksi dodol buah. Mulai,, dodol buah naga, dodol sirsat dan dodol tomat. Jumlah produksi lumayan. Sekali produksi masing-masing 12 kilogram dodol. Permintaan dodol buah kata nenek dua cucu ini tak kalah ramai. “Tantangannya saat di luar musim,” ungkapnya.

Dia mencontohkan buah naga. Saat musim panen raya, Romlah mengaku tak sulit mendapat pasokan buah naga, karena di wilayahnya jenis buah ini melimpah, bahkan saat musim panen raya, harga buah naga murah sampai tak laku jual.

Dari usaha dodol ini, Romlah merasa senang. Bisa menaikkan nilai jual buah naga, terutama saat panen raya. Di luar musim harga buah naga mahal, dirinya tak bisa produksi, padahal permintaan terus mengalir. Harga dodol ini dbandrol Rp 60.000 per kilogram. Dodol buatannya 90 persen berbahan buah.

Kini, dari usaha keripik dan dodol ini, ibu tiga anak tersebut bisa meraih pendapatan bersih, Rp 300.000 hingga Rp 600.000 per hari, tergantung momen. Romlah juga tergabung dalam BEDO (Bussiness & Eksport Development  Organization), sempat mendapat tawaran ekspor keripik singkong dari Singapura dan Tiongkok hingga 10 ton per bulan. Namun, pihaknya belum bisa memenuhi. “Saya ingin menggandeng pelaku UMKM lainnya, namun masalahnya pada ketersediaan bahan baku yang belum mumpuni,” ungkapnya.

Selain sibuk mengurus usaha, Romlah juga rajin menularkan jiwa wirausaha ke berbagai pelosok. Dia dipercaya Desperindag Banyuwangi dan Kementerian Perindustrian RI, sebagai tutor dalam berbagai pelatihan wirausaha. “Saya senang bisa berbagi ilmu dan pengalaman dengan siapapun, meski kadang menyesal kenapa kesempatan ini justru datang saat usia saya tak lagi muda,” pungkasnya. (tin)