Konsentrasikan Dana Bantuan Dalam Negeri

23

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – ALAM dan bumi akhir-akhir ini menjadi geram terhadap lingkungannya. Termasuk pada umat manusia. Dunia diguncang bukan hanya pertarungan poilitik dan senjata, tetapi oleh bencana alam. Dari kebakaran hutan dan lahan, angin ribut, badai, banjir bandang, tanah longsor, gelombang tinggi hingga gempa. Semua benua terkena. Di Indonesia, sejak awal tahun ini saja berturut-turut bencana alam terjadi. Dari banjir, tanah longsor hingga gempa disusul kapal-kapal tenggelam (dan ada yang terbakar) oleh angin dan badai. Tak mengapa kalau bencana itu tak membawa jiwa manusia. Namun nyatanya tidak demikian.

Bencana yang besar-besar berurutan sejak awal 2018 saja. Dimulai tanah longsor Bukit Lio di Desa Pasirpanjang kabupaten Brebes, Jateng (22/2) membawa korban 24 orang, disusul gempa besar di Papua di kawasan Boven-Digul (25/2) yang berpusat gempa di Papua Nugini (7,4 Skala Richter/SR) disusul gempa Pegunungan Bintang Papua (5,4 SR) dengan korban puluhan orang dan hilang. Kemudian, tenggelamnya KM Sinar Bangun dihantam gelombang akibat angin kuat di Danau Toba (18/6) yang menelan korban 192 orang tewas, disusul terbakar dan tenggelamnya dua kapal di Laut Jawa, dan terakhir KM Satya Kencana IX (4/8) di Laut Jawa pertengahan antara Surabaya-Banjarmasin.

Meski hanya seorang meninggal dan lebih dari 100 orang bisa diselamatkan, tetapi itu juga nyawa manusia. Di daratan, sesuatu hal yang tidak tersangka-sangka  pada 28 Juni, terjadi gempa tektonik (5.4-6.4 SR) mengguncang Lombok Timur (terutama kecamatan Sembalun). 17 orang tewas dan 1.359 luka-luka kejatuhan atap dan tembok rumah masing-masing. Sebanyak 1.226 orang pendaki Gunung Rinjani harus diselamatkan, karena jalur pendakian longsor hebat.

Presiden Jokowi, memerlukan mengunjungi lokasi para pengungsi dan yang luka-luka di Lombok Timur. Untuk menanggulangi akibat bencana itu, dikerahkan tim gabungan sebanyak 119 orang. Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loeng berkirim ucapan dukacita dan kesediaan membantu apa saja. Belum lagi dampak gempa itu ditangani sepenuhnya, gempa susulan yang dianggap puncaknya gempa tektonik akibat sesar (lempeng bumi Flores, naik di atas sesar Pasifik) mengguncang Lombok Timur bagian utara (5/8) berkekuatan 7.0 SR. Dalam gempa yang terjadi hari Minggu pukul 19.46 Wita, beberapa orang di Mataram melihat di langit utara pulau Lombok itu muncul cahaya hijau dari langit. Sleluruh pulau Lombok diguncang cukup keras, demikian pula guncangan ke seluruh pulau Bali sampai dengan mencapai Jawa Timur/Jatim. Terutama di Banyuwangi dan Ponorogo. Peringatan tsunami dibatalkan, karena air laut hanya naik sekitar 20 cm di Lombok utara. Tetapi ribuan rumah, tempat ibadah, bangunan lain termasuk bagian depan mall di Mataram roboh menimpa belasan sepeda motor, langit-langit Bandara Praya Lombok rontok, juga bagian dari Bandara Ngurah Rai Denpasar rontok. Yang mengenas-kan, pada 8 Agustus sudah ditemukan 105 orang tewas dan lebih dari 209 orang luka-luka. Angka itu katanya akan bertambah, karena belum semua rumah yang ambruk bisa diangkat. Bukan hanya korban bencana alam itu yang menderita. Perputaran ekonomi rakyat juga sangat terganggu untuk beberapa minggu.

Bencana alam itu bisa saja sewaktu-waktu menimpa kawasan lainnya, selama sesar atau lempeng di dasar laut yang memanjang di pantai selatan mulai Aceh hingga Nusa Tenggara Timur/NTT dan seluruh Pulau Sulawesi, Maluku Selatan dan Maluku Utara serta seluruh Pulau Papua merupakan kawasan pertemuan-pertemuan lempeng dan mengandung lava atau disebut sebagai “Cincin Api” itu belum mapan di tempatnya. Contoh ulah bumi, yakni tiba-tiba gunung Anak Krakatau yang selama itu berdiam diri, tiba-tiba meletus. Untung dia berada di Selat Sunda. Pendek kata, Indonesia menjadi biangnya gempa. Tinggal bumi yang kita injak ini sedang enak hatinya atau tidak.

Permasalahannya sekarang, semua bencana alam tersebut harus diliput dengan dana dan bantuan. Melalui instruksi Presiden ataupun menurut keharusannya bagi pemerintah. Baik kepada orang-orang yang tewas atau luka-luka. Sampai bantuan untuk rehabilitasi rumah mereka. Dana bantuan itu bisa keluar dari berbagai institusi pemerintah. Seperti Kemen Sos, Kemen Des, Kemen PUPR, Kemen Kes dan lain-lain. Jumlahnya bisa menjadi triliunan rupiah. Dana dari APBN untuk keperluan tersebut meski dianggarkan, namun bisa sangat menipis. Sementara bencana alam lainnya bisa saja menyusul.

Dalam masalah dana bantuan, tidak kecil adanya pihak-pihak masyarakat atau institusi bisnis memberikan sumbangan. Sumbangan yang berjalan pun dan dilakukan secara rutin untuk keperluan lain, juga berjalan. Jumlahnya bisa miliaran hingga triliunan rupiah. Sayangnya, terbawa pengaruh politik internasional dan terkadang berbangga sebagai basis keagamaan. Bantuan itu diberikan kepada rakyat atau negara yang sebenarnya lebih berat condong karena terbawa pengaruh politik internasional itu. Dada kita bisa kita tepuk bangga: kami membantu! Tetapi dibelakang kita, rakyat kita masih sangat banyak yang perlu dibantu. Antara lain, yang terdampak bencana alam. Nah, saya menggambarkan rentetan bencana akibat alam saja seperti tertuang diatas, sudah membutuhkan dana besar demi kesejahteraan rakyat untuk pulih dari deritanya. Tentu pertanyaannya: rakyat mana yang lebih kita pentingkan untuk dibantu? Amal kita bagi sesama, akan lebih bermanfaat kalau yang “sesama” itu  adalah sesama bangsa kita, kerabat kita. Dana bantuan yang cuma digantungkan pada anggaran pemerintah, karena jumlahnya juga terbatas.

Jadi, marilah tidak bersombong-sombong mampu membantu dana dan lainnya untuk kepentingan bangsa lain. Sedangkan untuk derita bangsa sendiri kita menutup kocek! Terlebih lagi, kalau bangsa lain yang kita bantu itu bagaikan lautan. Sedangkan kita seolah ‘menggarami air laut’. Tak akan ada ujung akhirnya! Jadi, seyogyanya konsentrasikan dana bantuan tersebut untuk sesama kita. Amin. (amak syariffudin)