Puisi Indah Karya Heti Palestina

484

TAK KUTUNGGU KAMU

Aku sudah menikahi hujan semenjak kamu hanya menjanjikanku sebuah perjalanan tak bersinggah.
Ku ujar sendiri; takkan pernah takut lagi kujangkau berkilometer-kilometer karena kehendak bebas inilah yang mencarimu di mana-mana.

Sesekali roda berputar.
Tersibak air perlahan seperti berseluncur.
Ketinggian sering melenakan bagai bersayap.
Lalu stasiun terlewati begitu saja tanpa tersapa.
Seperti hujan di tengah tempuhan; kuterjang, kubiar, kutembus kamu agar tak menghalang waktuku sampai.

Tapi nyatanya kamulah yang selalu berbayang di aspal, di permukaan, di langitdan di lintasan besi itu.
Kadang terserak lepas tak tentu arah.
Kerap meresap mengairi mata yang mula menggenang di sudut.
Tapi, takakan kutunggu kamu karena aku tak mungkin sempat pulang.

Kediri, 28 Maret 2016


SEPULUH DOMBA

Kegembiraan semacam kecambah tersemai di tanah basah
Tak perlu disiangi
Tatkala hijau diharap, ia menyembul di antara putik yang menggugat di dahi
Kerutan di ujung matamu itu menipis, kekasih

Rambutmu yang keperakanku jemput jadi senyuman setiap pagi
Persahabatan kita bagai jembatan antara surga dan neraka
Tipis beda dan rasanya
Tuhan menempatkan kita bersepuluh jadi domba-domba riang di ilalang

Surabaya, 17 April 2016
*Untuk 9 sahabat ‘jomblo’ proyek phoem-photo boek “Satu”


DI TEPI JUBAH TUHAN

Tampaknya berpisah tapi kita semakin mendekat dalam doa
Terasa jauh namun kita dibuat merindu akan kenangan baik
Seperti tangisan tetapi jelas ini bukan ratapan pilu
Karena aku tahu
Pasti yang kau tempuh pagi tadi adalah ajakan rahasia yang kautunggu-tunggu

Ini juga bukan derita karena tanah dan air kembali memangkumu
Bahkan Tuhan berjanji melapangkan tangan-Nya menyambutmu
Seketika ini menggugah kuakan panjangnya sejarah yang kau tatah
Begitu menggurat pada jalan aspal panas yang kau sulap jadi permadani sejuk bagi kebanyakan

Sulit untuk tidak mengatakan ini berat karena yang kau harap pada kami hanya keikhlasan melepasmu
Dengan terpaksa aku bilang ini bahagia; kebahagiaan yang bersyarat
Aku dan engkau hanya di alam berbeda yang berjarak sangat dekat di tepi jubah Tuhan Selamat jalan

Peluk cium dan lambaian tangan kami
Sampai bertemu

Selasa, 24 Maret 2015, 06.00
*Ditulis begitu Slamet Abdul Sjukurmangkat


PEREMPUAN MEMERAH

Perempuan itu bersuka
Ujung susunya memerah
Lega bayinya tertidur
Kenyang meneguk air di tubuh

Pipi perempuan itu memerah
Sinarnya merona
Kain dan selimut terlipat rapi
Makanan berlimpah di meja
Suami pulang menciumnya
Terngiang terima kasih

Jika ada yang memerahkan hati
Perempuan itu menyimpannya
Jadi doa
Lalu berdiam mengangguk
Ia ingin pahala

Surabaya, 13 Maret 2015
*Terinspirasi tentang lukisan Mas Agus Suwage


HETI PALESTINA YUNANI mengaku sebagai art lover berat. Di sela sibuknya, lulusan Antropologi Unair ini bermainteater, melukis, menyanyi, menggarap beberapa pameran seni rupa dan menulis puisi. Beberapa puisi perempuan kelahiran Lumajang, 15 Agustus 1976 itu sudah terbit di antaranya dalam antologi puisi: Teruntuk Ibu, Puisi Menolak Korupsi 5, Kamus Kecil tentang Cinta, Rupa Puisi Perupa, Perempuan di Ujung Senja dan Satu. Selain sebagai jurnalis lepas dan dosen ilmu komunikasi, mantan reporter Surabaya Post, redaktur Radar Surabaya dan Tabloid Nyata itu, adalah ibu untuk Syamsiah Naqsya Afghanistan dan M Baqi El Vatikan.