Desa Temuguruh : Ketupat “Bola” Meriahkan Grebek Syawal

28

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – MENGAKHIRI Lebaran dirayakan sedikit berbeda di Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu. Warga menggelar gerebek Syawal Ketupat Sewu. Tradisi turun temurun ini menjadi daya tarik wisatawan. Selain itu, sebagai bentuk gotong royong dan kerukunan warga.

Suara tetabuhan rebana terdengar rancak. Puluhan tumpeng raksasa berisi ketupat dan lepet siap diarak warga keliling desa. Seluruh masyarakat Desa Temuguruh turun ke jalan. Dari kaum muda sampai kaum lansia ikut berpartisipasi dalam acara ini. Anak-anak bersuka ria mengikuti pawai sembari memukul alat musik tetek. Berbagai atraksi seni turut menghibur warga. Mulai marching lansia, seni jaranan barong rejeng dan seni kuntulan. Serta atraksi hiburan dari pemuda setempat.

Warga mengarak gunungan Ketupat. (Foto/tin)

Acara pawai dimulai pukul 12.00 WIB, berangkat dari lapangan Temuguruh, berkeliling menuju kantor desa setempat. Meski suasana diwarnai mendung, tak menyurutkan antusias warga mengikuti dan memeriahkan acara ini. Kreativitas warga dalam menghias ketupat patut diacungi jempol. Berbagai model dibuat warga. Dari model gunungan, masjid, perahu sampai model ketupat bola ala piala dunia. Suasana inilah yang tergambar dalam Pawai Gerebek Syawal Sewu Kupat Desa Temuguruh, Kamis, (21/6) lalu. Kegiatan ini dihelat warga setempat kedua kalinya, dalam rangka merayakan Lebaran Ketupat.

Kegiatan ini diikuti seluruh masyarakat Desa Temuguruh di enam lingkungan RT. Ada 25 RW. Tiap RW menampilkan kreativitas dalam membuat tumpeng ketupat dan lepet.

Kades Temuguruh Asmuni,SP. (Foto/tin)

Warga setempat mulai menyiapkan dan memasak ketupat malam hari sebelumnya. Dimana dalam satu lingkungan RW, bisa membuat dan memasak ratusan ketupat dan lepet. Dusun Krajan Kampung Lalangan misalnya. Untuk membuat gunungan ketupat, menghabiskan 300 ketupat dan 200 lepet. “Untuk memasak ketupat dan lepet kami perlu 30 kilogram beras dan 9 kilogram beras,” ungkap Firman, wakil pemuda sedulur Lalangan. Mereka sengaja memilih membuat gunungan ketupat bentuk kerucut, simbol harapan mencapai kemakmuran.

Sementara itu, warga RW lingkungan Masjid RW II Krajan Kulon memilih membuat hiasan ketupat model bola seiring demam piala dunia. Untuk merakitnya, mereka perlu waktu 4 hari. Ketupat ala bola ini cukup menarik perhatian penonton.

Wabup Yusuf Widiatmoko ikut berebut ketupat. (Foto/tin)

Warga Dusun Sawah Gede tak ketinggalan membuat tumpeng ketupat raksasa. Berisi 400 ketupat dan 200 lepet. Proses memasak dilakukan secara bersama-sama warga di rumah ketua RW. Oleh karena itu, kegiatan ini juga dimanfaatkan warga sebagai ajang guyub serta sillaturhami. “Proses merebusnya cukup lama. Sekali rebusan perlu waktu tiga jam, berisi 100 ketupat,” ucap Edi, Ketua RW. Menurut Edi dana untuk kegiatan ini berasal swadaya masyarakat.

Proses arak-arakkan ketupat, mirip pawai ogoh-ogoh. Sekelompok pemuda mengangkut satu gunungan ketupat. Mereka juga menunjukkan atraksi dengan cara memutar gunungan ketupat, diringi tetabuhan musik.

Tak hanya ketupat dan lepet, berbagai hasil bumi warga desa setempat seperti sayur mayur, palawija yang merupakan hasil pertanian warga, menjadi bagian dari tumpeng. Yakni sebagai simbol rasa syukur dan kemakmuran desa.

Kepala Desa Temuguruh Asmuni SP, juga ikut pawai, memimpin jalannya pawai diikuti seluruh jajaran perangkat Desa Temuguruh. Kades Asmuni sangat mengapreasi kegiatan ini. “Kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi, serta dengan harapan warga lebih meningkatkan kreativitas dan terimakasih atas semua dukungan warga,” ucapnya. Apalagi tahun 2018, Desa Temuguruh menjadi desa mandiri.

Hadir dalam acara ini, Wabup Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko, juga Camat Desa Sempu. Wabup Banyuwangi juga menyambut baik acara ini serta memberi apreasi mendalam kepada seluruh Warga Desa Temuguruh. Pihaknya berjanji akan mengkaji kegiatan ini untuk dimasukkan dalam kegiatan festival. Usai, dilakukan doa bersama, Wabup menandai acara tersebut dengan ikut berebut ketupat. Lalu, menyantapnya bersama. (tin)