Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pemenuhan hak anak Indonesia. Setiap anak di Indonesia mempunyai hak sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Perlindungan Anak. Mulai hak hidup, hak dilindungi, bermain dan sekolah. Elmi Septiana, adalah anak Indonesia yang peduli terhadap hak anak yang ada di lingkungannya. Anak dari pasangan Sakdan, dan Napisah, ini aktif di forum anak di sekitar tempat tinggalnya di Mataram.

Selesai jam belajar di Madrasah Aliyah Darul Aitam (Mada) Jeru Waru Lombok Timur, Elmi, aktif mendampingi anak taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri (pekerja migran). “Keinginan saya sederhana, memastikan mereka tetap mendapat kasih sayang walaupun jauh dari orang tuanya,” kata Pendamping anak pekerja migran Elmi Septiana, kepada Bisnis Surabaya Minggu (22/7) kemarin.

Keinginan kuat Septiana dalam melindungi anak pekerja migran, diwujudkan dengan mendampingi mereka dari upaya bully, pekerja anak, maupun pernikahan dini. Aktivitas yang ditekuni Septiana, berbuah manis. Dia terpilih dalam seleksi untuk mengikuti kegiatan Pusparagam Indonesia Temu Anak Peduli 21-22 Juli di Hotel Java Paragon Surabaya.

Septiana, bersama 165 anak dari 83 kota/kabupaten dari 13 provinsi di Indonesia mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Asia Fondation bersama  Australia Goverment, PKBI, LPKP Jatim, Lakpesdam NU, Samin, Satu Nama, Indonesia untuk Kemanusiaan, dan Pusat Rehabilitasi Yakkim, dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli di Hotel Java Paragon Surabaya Minggu (22/7) kemarin. Acara ini bertujuan membangun kebangsaan dan kewarganegaraan Indonesia melalui pengalaman dan keinginan anak.

“Saya gembira sekali karena mendapatkan materi tentang literasi, toleransi, gotong-royong, kewirausahaan, dan kepemimpinan,” kata Septiana. Seperti halnya anak-anak Indonesia lainnya. Septiana, merindukan hadirnya kota ramah anak di seluruh Indonesia. Dimana setiap anak bisa merasa aman dan nyaman di setiap tempat dan waktu, karena perlindungan anak dilakukan berbasis masyarakat. (nanang)