Demo Ayam dan Telurnya

54

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – BARU pertama kali dalam sejarah demonstrasi di negara kita, puluhan ibu-ibu rumah tangga melakukan unjukrasa di depan Istana Negara. Sambil membawa bendera (entah bendera apa) dan memukul-pukul cangkir kaleng dan beberapa alat rumah tangga, mereka berteriak-teriak menuntut harga daging ayam dan telurnya sekalian agar tidak terus naik. Juga tuntutan agar harga-harga kebutuhan rumah tangga lainnya diturunkan.

Bukti emansipasi wanita kita sudah begitu majunya. Buktinya, para ibu yang datang dari perkampungan wilayah di ibukota berpayah-payah mengeluarkan beaya mencari transportasi dari masing-masing kampungnya menuju kawasan Monas. Lalu menggelar demo. Artinya, para ibu itu sudah dan mengerti berpolitik praktis. Ataukah ada yang menghembuskan atau menggerakkan mereka berdemo. Sehingga urusan telur ayam pun dipakai untuk politik? Ataukah ada kekuatan partai politik oposisi terhadap pemerintahan kita yang menggerakkan dan mengangkut mereka ke depan Istana Negara? Yang bisa menjawabinya cuma hati nurani para ibu itu sendiri. Namun, bagaimana pun juga, pemerintah menanggapinya dengan mengadakan “operasi pasar”, menjual harga telur ayam seperti harga pasar sebelum ada kenaikan harganya.

Menurut penjelasan yang berasal dari peternak dan pedagang daging ayam potong dan telur ayam di beberapa daerah, harga itu naik karena kondisi kekurangan stock akibat adanya pengaruh cuaca ekstrim dalam bulan-bulan sejak awal hingga pertengahan tahun ini.

Akibatnya, begitu menurut mereka, banyak ayam potong mati dan ayam petelur kurang bertelur. Bukan alasan kurangnya alat transportasi dari pusat-pusat ayam potong atau telur ayam ke pasaran.

Memang susah juga memaksa ayam potong untuk tidak mati dan ayam petelur tidak menahan telur di dalam perutnya. Lebih susah lagi meminta cuaca tidak bertindak ekstrim.

Umpamakan saja, guna menekan harga-harga pangan itu membuat pemerintah melakukan impor telur ayam atau daging ayam dari luar negeri seperti dari India atau beberapa negara Asean dengan harga terjangkau. Harga-harga jualnya di negara masing-masing bisa menyamai harga-harga daging ayam dan telur ayam di Indonesia. Seperti sebelum terjadinya kenaikan harga. Akan tetapi, mosok daging ayam dan telur ayam saja harus impor! Kan kebangeten. Tetapi yang pasti, para peternak ayam potong atau ayam petelur bakal ganti berteriak-teriak karena harganya tersaingi. Pada akhirnya, sudah pasti kebijakan macam itu sebagai dagangan laris-manis bahan kecaman dan olok-olok pihak parpol dan kelompok oposisi. Apalagi dalam suasana panas perpolitikan “tahun politik” sekarang, yang terasa mulai terjadi eskalasinya yang memuncak.

Memang dianggap agak aneh, bahwa justru sesudah era Lebaran yang lalu, harga-harga justru lebih tinggi ketimbang saat harga daging ayam dan telur ayam waktu itu. Perasaan heran itu sebenarnya bisa dijadikan patokan bagi kalangan pemerintahan. Bahwa tingkat kebutuhan daging ayam dan telur ayam itu sebenarnya adalah dalam volume yang ada sekarang. Hanya dikarenakan stocknya yang kurang sebagai dampak cuaca ekstrim. Sehingga menjadikan harganya tinggi.

Dapat kita maklumi, betapa meningkatnya kebutuhan selera makan rakyat Indonesia. Kalau dulu penjualan daging ayam dan telurnya dalam jumlah yang terbatas, dan sering kelebihan jumlahnya sehingga menjadikan harganya jatuh atau jualan itu terbuang. Namun, kini kedua komoditas tersebut sudah menjadi bahan industri makanan. Apakah diolah oleh pabrik atau restoran. Yang kesemuanya menjadikan menu makanan modern dengan selera asal luar negeri.

Barangkali, tidak lama lagi ibu-ibu yang berdemo ke depan Istana Negara itu tidak perlu harus dibisiki dan diangkut lagi oleh pihak lain untuk keperluan berdemo, yang mungkin tidak cukup berteriak-teriak saja. Namun, mungkin sambil melepas ayam potong ataupun petelur dan menggelar telur ayam di Jalan Merdeka Utara! Harga komoditas itu pasti ditekan pemerintah. Harga-harga itu akan “normal” kembali dan ibu-ibu itu bisa memborong daging ayam dan telur ayam sebanyak-banyaknya untuk dikonsumsi sendiri atau dijadikan barang dagangan. (amak syariffudin)