Nelayan asal Afrika belajar budidaya ikan di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi, Senin (16/7). (Foto/udi)

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Banyuwangi memiliki sumberdaya laut melimpah. Afrika ternyata melirik sumberdaya ikan dari Banyuwangi dan budidayanya. Puluhan delegasi dari negara Afrika dan Asia Pasifik sengaja datang ke kota yag berbatasan dengan Bali ini untuk belajar bagaimana caranya menangkap yang aman dan tata cara budidaya ikan, Senin (16/7) siang.

Para delegasi asing ini datang dari 24 negara di Afrika dan Asia Pasifik. Banyuwangi sengaja dipilih lantaran memiliki sumberdaya laut melimpah dan tata cara budidaya ikan air tawar dan laut yang lengkap. “ Ini bagian promosi Indonesia menjadi poros maritim dunia. Kita memberikan pelatihan ke negara berkembang dalam hal budidaya ikan dan cara tangkap yang baik dan ramah lingkungan,” kata Sekretaris Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Dr. Maman Hermawan disela pembukaan Pelatihan Perikanan Internasional Asia Pasifik dan Afrika di Banyuwangi, Senin (16/7). Pelatihan dipusatkan di Balai Latihan dan Penyuluhan Perikanan milik KPP di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.

Dijelaskan, pelatihan bagi negara berkembang ini sudah dilakukan sejak 2009. Tercatat ada 18 kegiatan pelatihan yang dilakukan Indonesia di Asia Pasifik maupun negara-negara di Afrika. “ Fokus kita bersama-sama menjaga ekosistem laut dengan cara tangkap yang ramah lingkungan. Dan, budidaya ikan untuk kelanjutan alam di wilayah negara masing-masing,” jelasnya. Menurut dia, konsumsi ikan menjadi cara yang tepat di dunia untuk peningkatan gizi. Gerakan ini, lanjut Maman, dipromotori Indonesia sebagai negara maritim.

Mereka yang ikut pelatihan selama seminggu ini berasal dari beragam kalangan. Mulai akademisi, pengusaha perikanan hingga nelayan. Mereka datang dari Papua Nugini, Solomon Island, Libya, Sudan hingga Kongo, Kenya dan Tunisia.

Bagi pengalaman perikanan ini memberikan keuntungan tinggi bagi ekspor ikan Indonesia. Sebab, negara asing itu mengetahui kualitas ikan dan cara tangkap di Indonesia yang sangat ramah lingkungan. “ Jadi, dengan pemberian latihan ini, Indonesia diuntungkan dengan promosi kualitas ikan dan cara tangkap. Ini bisa mendongkrak nilai ekspor,” kata Pinkan Ovanita Tulung, Sekretaris Eksekutif Kerjasama Selatan Selatan (Non Aligned Movement Center for South South Technical Cooperation).

Salah satu nelayan asal Kepulauan Solomon, Gloria merasa beruntung mengikuti pelatihan di Banyuwangi. Pengusaha ikan ini mengaku di negaranya, hanya menangkap ikan sebagai mata pencaharian utama. “ Dengan belajar budidaya dan pengolahan ikan, kami akan tahu bagaimana mengembangkan industri perikanan di negara kami,” ujarnya. (udi)