Soal Susu : Salah Siapa?

37

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – KETIKA tersingkap rahasianya, ributlah orang menyoal susu yang semestinya bukan untuk balita. Dalam Juni-Juli ini, mencuat ‘rahasia’ susu-kental-manis kalengan, yang diproduksi sejak bertahun-tahun lalu baru tahun ini mulai ketahuan wujudnya. Rahasia jenis susu yang disebut “susu kental manis” itu diperkirakan memang kandungan susunya yang kental dan diberi gula. Baru ketika laboratorium yang mungkin tak sengaja memeriksanya, ternyata sangat-sangat sedikit kandungan susunya. Isinya lebih banyak gulanya. Padahal, entah sudah berapa puluh ribu bayi atau balita diberi oleh orang tuanya dengan susu tersebut sebagai tambahan asupan ASI sang ibu.

Lha iya. Yang mengherankan, kok Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kementerian Kesehatan,– baik di pusat maupun di daerah,– baru sekarang mengetahuinya. Kata mereka sendiri, itu bukan pengganti ASI. Dampaknya memang tak sampai menimbulkan kematian pada bayi atau balita. Tetapi, di masa mendatang, kandungan gulanya yang tinggi itu, bisa menyebabkan kegemukan (obesitas) maupun tingginya darah-gula (diabetes melitus). Ketika ribut-ribut dan sudah muncul suara seperti dari organisasi-organisasi Lembaga Konsumen dan lain-lain yang menuntut produsen susu-kental-manis itu, buru-buru BPOM Pusat mengadakan konferensi pers di Jakarta Senin (9/7) lalu. Kata Kepala BPOM Pusat itu, tak ada yang salah dalam keterangan yang ada pada kaleng susu tersebut. Yakni, kandungan utamanya sudah disebutkan bukanlah susu, tetapi gula.. Kekeliruan “hanya” pada periklanannya yang seolah menggambarkan, susu-kental-manis itu juga dapat digunakan sebagai susu untuk minuman anak-anak, yakni bayi atau balita.

Boleh diartikan, pengganti susu ASI.
Masalahnya, bukankah kewajiban BPOM untuk meneliti setiap produksi obat-obatan dan makanan-minuman? Artinya, tak hanya pada jenis produksinya, akan tetapi penggunaannya di masyarakat. Bukankah BPOM sendiri yang menentukan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 01.314/1998 tentang susu. Dimana ditentukan terdiri dari susu murni yang berasal dari kambing atau sapi sehat dan bersih yang diperoleh dengan cara yang benar. Yakni, dengan kandungan alami yang tidak dikurangi ataupun ditambah serta belum mendapatkan perlakuan apapun, kecuali dalam proses pendinginan.

Sedangkan susu-kental-manis diatur dalam SNI 2971.2011 yang menentukan mengenai kandungan susunya. Sedangkan jenisnya (varian) susu kental manis seperti susu skim kental, susu skim sebagian kental-manis, susu kental manis lemak. Pokoknya, ada syarat mutu kandungan protein (Nx6,38) yang jumlahnya bervariasi mulai 4,8 persen- 6,8 persen dari kekentalan susu.

Jadi, kalau dikatakan iklannya yang mengecoh pada orang tua, maka bukankah iklan tersebut sebagai “iklan palsu” (a false advertising), sehingga menipu? Apakah tak ada hukumnya? Padahal, adalah larangan keras perusahaan periklanan membuat dan menyiarkan macam iklan palsu itu menurut kode etik Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI). Nah, sekarang lantas orang menuding-nuding: setelah kasus susu itu tersingkap. Maka yang salah itu BPOM Pusat (juga di Daerah?) atau perusahaan produsen susu-kental tersebut yang sengaja menipu para orang tua dan khusus para ibu, agar jualannya laku?

Barangkali, sesekali hukum bisa mencekal managemen perusahaan seperti itu. Sebagaimana kasus susu-manis-kental sekarang, dampak perusak kesehatan dalam jangka waktu pendek ataupun jangka panjang. Akibat yang bakal merugikan kemaslahatan rakyat. Khususnya dalam kesehatan anak-anak kita itu. Mengapa BPOM hanya meneliti produk itu ketika minta izin untuk diproduksi? Lalu, tidak meneliti lagi ketika produksi sudah beredar di pasar selama bertahun-tahun? Juga sekalian, agar BPOM Pusat tidak “pasang badan” mencoba melindungi tudingan rakyat kepada pemalsuan lewat periklanan itu. Memang menggelikan, tetapi juga mengerikan. Susu pun dipermainkan dalam perdagangan.
(amak syariffudin)