Geseng Bangsong, Kuliner Khas Desa Singolatren

50

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – KULINER menjadi salah satu menu wisata di Banyuwangi. Apalagi, banyak yang unik. Seperti, geseng bangsong yang hanya ditemui di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh. Menu ini terbilang langka. Berbahan dasar dasar entok alias itik. Rasanya,  pedas dan asam. Dibilang langka karena makanan berbahan daging itik saja sudah jarang ditemui. Lalu, bumbu penambah rasa asam yang unik, ditambah  daun Wadung muda.

Di Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, kuliner geseng bangsong masih lestari. Pohon Wadung banyak ditemukan tumbuh liar. Selain memberikan rasa asam, daun Wadung ternyata juga bermanfaat menghilangkan bau amis dari daging itik.

Kepala Desa Singolatren Apandi mengatakan, geseng bangsong telah menjadi makanan khas secara turun temurun di desanya. Desa Singolatren berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi. Di sana juga berkembang usaha-usaha warga. Seperti,  produsen terasi, kerajinan kulit ular dan kesenian campursari.

Apandi menuturkan, sejak kecil ketika menjelang hari besar agama Islam dia melihat ibu-ibu kampung sibuk mencari itik  dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan. Jika tidak menemukan daging itik, biasanya daging sapi dan ayam dijadikan penggantinya.

“Ini adalah makanan khas Dusun Wijenan Kidul, kalau dusun atau desa lain masak rasanya sudah beda. Saat hari besar Islam, tamu-tamu yang sudah tahu pasti tanyakan ‘gesengnya sudah matang’,” kata Apandi.

Meski belum ada warung yang bisa menyediakan menu khas itu, wisatawan bisa memesan kepada warga. Biasanya dikenakan harga Rp 200.000 per ekor. “Bagi warga sekitar ini adalah makanan mewah, karena harga bahannya yang lumayan tinggi. Harga satu ekor itik sekitar Rp 140 ribu, setelah dibersihkan daging yang dimasak berbobot sekitar 2 kilogram,” pungkasnya. (wid)