Tekad Kampung Darmo Rejo Surabaya Menuju Destinasi Wisata Ujung Galuh

1040

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Siapa yang tak kenal Darmo? Kawasan super elit di Surabaya itu sejatinya terdiri dari perkampungan. Tengok saja, jika menyebut nama Darmo Surabaya, maka akan terbayang suatu kawasan di wilayah Surabaya Barat yang terdiri dari Darmo Indah, Darmo Harapan, Darmo Baru dan juga Darmo Boulevard.

Padahal, sesungguhnya dari dulu yang disebut kawasan Darmo adalah kampung -kampung yang ada di sepanjang jalan Raya Darmo bagian selatan. Mulai dari Darmo Rejo, Darmo Kali sampai kampung Darmo Tegal di ujung utara yang sekarang berubah menjadi gedung perkantoran BCA. Umumnya kampung – kampung tersebut masuk wilayah administratif Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo.

Sejak zaman kerajaan Majapahit, kemudian diteruskan zaman penjajahan kolonial Belanda, perkampungan ini merupakan kawasan padat penduduk sekaligus pusat perdagangan.

“Wajar, jika kawasan ini menjadi maju. Karena letaknya sangat strategis di muara Kali Surabaya atau Kali Pacekan yang dulu disebut dengan Ujung Galuh,” kata Tokoh Masyarakat Darmo Rejo, M.Sholehudin, kepada Bisnis Surabaya Senin (9/7) kemarin.

M Sholehudin, Ketua RT 10 Darmo Rejo. (Foto/nanang)

Bertepatan momentum lomba Merdeka Dari Sampah (MDS) 2018 yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, yang mana kampung Darmo Rejo RT 10 RW IV Kelurahan Darmo mengikuti lomba tersebut.

“Melalui kegiatan ini kami berusaha membuka kesadaran warga untuk peduli terhadap lingkungan. Utamanya mengolah sampah plastik menjadi produk yang bermanfaat,” ujar Wakil Ketua Karang Taruna Surabaya ini.

 

Berbagai persiapan dilakukan warga. Dimulai dengan menciptakan lingkungan bersih, mengolah sampah, menanam pohon sampai melukis mural tiga dimensi berthema lingkungan pada tembok dan jalan kampung sepanjang lebih kurang 100 meter.

Selain untuk kepentingan lomba, aktivitas warga ini juga dilakukan untuk mempersiapkan kampung mereka menjadi destinasi wisata yang bertajuk Darmorejo Kawasan Ujung Galuh.

Untuk kepentingan tersebut, mereka menggelar sarasehan dan diskusi sejarah tentang eksistensi kampung-kampung di kawasan Ujung Galuh yang melibatkan narasumber yang berkompeten dibidangnya. Seperti akademisi, ahli sejarah dan purbakala, pakar lingkungan, dan sosiolog.

“Keinginan masyarakat membentuk kawasan cagar budaya Ujung Galuh di Darmo,” tambah Sholehudin (nanang)