Mahasiswa UB Malang ini Ciptakan Perangkat Tanam Organik

503

Malang, (bisnissurabaya.com) – Inovasi anak bangsa. Pisang adalah tanaman yang tumbuh subur di daerah tropis. Seperti di Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Filipina. Umumnya, negara Asean menjadikan pisang sebagai komoditi ekspor yang mendatangkan banyak devisa.

Berbagai olahan berbahan pisang dihasilkan industri rumahan dan pabrikan. Seperti, kolak pisang, keripik pisang, hingga sale pisang. Tentu saja industri pengolahan tersebut menghasilkan limbah batang dan kulit pisang.

Limbah batang pisang yang jumlahnya melimpah hingga kini belum banyak dimanfaatkan, karena hanya dianggap sebagai sampah dan belum banyak orang yang tahu cara mengolahnya.

Data dan Informasi Kementerian Pertanian (2016) menyebutkan bahwa Kabupaten Malang merupakan sentra produksi pisang terbanyak di Jawa Timur/Jatim dengan kontribusi produksi sebesar 690.136 ton atau sekitar 42,35 persen dari total produksi pisang di Jatim.

Hal tersebut merupakan peluang yang ditangkap lima mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya/UB. Yakni, Firdausi, Dial, Nabilah, Andri dan Halimah.

“Kami menyulap limbah batang pisang yang awalnya dianggap sebagai sampah menjadi berkah rupiah. Yaitu, menjadi media tanam yang disatukan kedalam perangkat tanam organik yang disingkat dengan sebutan Petrik,” kata Firdaus kepada Bisnis Surabaya Senin (2/7) kemarin.

Petrik adalah perangkat tanam organik, sebuah paket komplit budidaya tanaman. Dirancang untuk dikomersialkan dalam bentuk budidaya tanaman full package dengan inovasi media tanam limbah pisang yang telah melalui proses pengolahan dan sterilisasi.

“Jadi, bagi konsumen yang membeli Petrik akan mendapatkan satu paket seperangkat alat dan bahan tanam. Diantaranya, media tanam, benih, pupuk, PGPR dan Tricoderma,” tambah Firdaus yang akrab disapa Firda.

Tim Petrik yang diketuai Firdausi dan dibawah bimbingan Sisca Fajriani SP, MP berhasil didanai Kemenristek Dikti pada Program Kreatifitas Mahasiswa 2018.

Pengelolaan limbah batang pisang menjadi Petrik akan terus diperbaiki dan dikembangkan agar lebih maju dan profesional. Karena dampak dari usaha ini sangat bagus dilihat dari bidang bisnis, lingkungan dan sosial.

Saat ini Petrik juga sudah mulai di pasarkan diberbagai kota. Kehadirannya akan memberikan dampak positif kepada nilai jual produk lokal dan mewujudkan mimpi Indonesia untuk melakukan urban farming yang berkelanjutan akan terwujud. “Produk Petrik bukan hanya mengedepankan sisi bisnis dan profit saja, namun juga sisi sosial dan lingkungan masyarakat,” jelas Firdausi. (nanang)