Antara Jokowi, Bung Karno, dan Pancasila

1587

(bisnissurabaya.com) – Nanti sesudah zaman Kalabendhu yaitu zaman kutukan, Nusantara mencapai kesengsaraan yang amat sangat. Sesudah itu, akan muncul seorang raja yang membawa Nusantara mengalami zaman keemasan yang lebih adil dan makmur. Raja itu lahir di Lereng Gunung Lawu, rumahnya di pinggir sungai, hidupnya sederhana, tukang cari kayu. Badannya tinggi kurus, hatinya suci dan keras. Kalau pakai baju tidak pantas. Tetapi dia mempunyai pasukan yang tidak kelihatan.

Begitulah isi ramalan Prabu Jayabhaya, yang menggambarkan sosok Jokowi. Prabu Jayabhaya, adalah Raja Kadiri yang memerintah sekitar 11351157 M. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. “Raja itu akan muncul setelah meletusnya Merapi yang membawa lahar panas, bersenjatakan pusaka Trisulo Wondho. Dia akan memerintah selama dua keturunan atau dua masa”, kata Penasehat Perkumpulan Pamanunggal Jati Nuswantoro Jokowi-Bung Karno (Paman Jokowi-BK) Hari Adji Soetomo, SPsi, MSi. Menurut Hari Adji Soetomo, sosok Presiden Jokowi, sangat sederhana walaupun bergelar panglima perang tertinggi.

Cara berpakaian apa adanya. Bahkan, kurang pantas menurut ukuran protokoler kepresidenan. Namun, dia mampu mengatasi keruwetan orang banyak. Orang nomor 1 di Republik Indonesia ini tak perlu memakai seragam kebesaran ala seorang raja atau panglima perang. Tetapi, lihatlah hasil kerjanya Organisasi Papua Merdeka (OPM)-pun menyatakan berikrar setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Presiden Jokowi, juga sering blusukan sendiri tanpa pengawalan pasukan secara berlebihan. Kecuali pasukan pengamanan tertutup yang tak terlihat. Namun, kesendiriannya tidak melunturkan kesaktiannya. Contohnya, saat tampil di Monas pada saat Aksi Bela Islam Jilid II beberapa waktu lalu.

Semua jadi tenang tanpa huru-hara berlebihan. Ancaman terjadinya chaospun akhirnya menguap tanpa jejak. “Sabdanya, seperti ludah api atau idu geni (jawa). Jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna dan tanpa azimat. Ia seakan bekerja dan berperang sendiri, sosoknya sangat sederhana, namun tegas luar biasa. Tak mengherankan bila semua patuh tunduk dengan perintahnya. Baik dari kalangan sipil, tentara dan polisi. Semuanya mampu dibuat bertekuk lutut di hadapan perintah tegasnya,” tambah mantan Bendahara Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Timur (DPD PDIP Jatim).

Terdorong rasa ingin memberikan dukungan terhadap Presiden Jokowi, yang dianggap sebagai Satrio Piningit, yang mampu membawa Indonesia pada zaman keemasan sebagaimana yang diramal oleh Prabu Jayabhaya dari Kerajaan Kadiri 883 tahun yang lalu. Mantan anggota DPRD Jatim periode 1999-2004, Hari Adji Soetomo, bersama beberapa karibnya, Hari Sucipto, Yoso, Adji Joyo, dan Paidi Prawiro Rejo pada 1 Juni 2018 mendirikan Perkumpulan Pamanunggal Jati Nuswantoro Jokowi-Bung Karno (Paman Jokowi-BK). Perkumpulan Paman Jokowi adalah wadah kaum nasionalis yang bertujuan mendukung kepemimpinan Jokowi dengan menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan mengembangkan budaya tradisi nusantara seperti yang diajarkan oleh Sang Proklamator Bung Karno, Tri Sakti. Yaitu, Berdaulat dibidang politik, Berdikari dibidang ekonomi, Berkepribadian di bidang kebudayaan.

Adapun susunan pengurus sebagai berikut : Hari Adji Soetomo, SPsi, MSi (mantan anggota DPRD Jawa Timur 1999-2004) menjabat Penasehat, Kusnadi, SH, MHum (Wakil Ketua DPRD Jawa Timur (2014-2019) dan Ir Hari Sucipto, menjabat Dewan Pakar, Nanang Sutrisno, SH, MM., menjabat sebagai Ketua, Ir. Kuswari sebagai WK Bid. Humas dan Yos, SH (advokat) sebagai Sekretaris, Ir Adji Joyo (Pengusaha Kontraktor) dan Maharsi, menjabat sebagai Wakil Sekretaris, Bendahara dijabat oleh Paidi Prawiro Rejo, SH, MM (Motivator Perlindungan Konsumen). Sebagai pecinta Bung Karno, Presiden Joko Widodo, tak hanya menjalankan ajaran ajaran presiden pertama dalam kehidupan pribadinya, tetapi juga dalam mengatur pemerintahan. Dia menuangkan ajaran tersebut dalam konsep Nawacita. Yaitu, 9 agenda pokok yang bertujuan melanjutkan cita-cita dan perjuangan Bung Karno. (nanang)