Penataran P4 Perlu Digalakkan Lagi

45

(bisnissurabaya.com) – Pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila perlu digalakkan kembali. Dengan harapan tingkah laku sehari-hari mencerminkan nilai mulia, beradab  dan jauh dari kekasaran maupun kekerasan.

Demikian disampaikan Advokat Senior Dr Sunarno Edy Wibowo SH, MHum, saat dialog “Hukum Dimata Bowo” di Surabaya TV, Jumat (1/6) pukul 20.00 WIB.  Pendapat advokat senior ini dalam kaitan menanggapi 1 Juni merupakan hari lahirnya Pancasila.

“Metode pemahaman seperti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) itu baik sekali yang dilakukan pada zaman Pak Harto dulu,” kata Cak Bowo panggilan akrab advokat senior ini. Lama penataran bervariasi ada yang menerapkan pola dukung 25 jam, 50 jam dan 100 jam dan lain sebagainya.

Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=SEzdpvWgKTQ
Part 3 : https://www.youtube.com/watch?v=N-r7ZhZyei4

Dengan metode penataran itu, lanjut cak Bowo, akan tertanam kedalam lubuk sanubari seseorang nilai-nilai luhur Pancasila. Dan pada akhirnya akan mewarnai tingkah laku pada kehidupan sehari-hari.

“Saya menjadi rindu dengan pola penataran P4 seperti itu. Dan saya pikir perlu dihidupkan kembali model penataran seperti itu. Atau kalau tak sama persis yaaa…, mirip-mirip lah penyampaiannya. Sehingga akan tertanam nilai-nilai mulia itu pada anak-anak, generasi muda bahkan orang dewasa,” harap pria yang juga dosen di Universitas Narotama Surabaya ini.

Pihaknya, masih ingat terhadap pelaksanaan penataran P4. Setelah mengikuti penataran biasanya mendapat sertifikat. Waktu itu, pelaksanaan penataran berlangsung disemua tingkatan, di sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi bahkan masyarakat umum. Tempatnya pun merata,  di kota sampai pelosok desa.

“Pancasila itu harus dihayati, sehingga Pancasila tetap utuh seperti sedia kala. Pancasila itu merupakan konstitusi bangsa. Dengan mengikuti Pancasila kita akan selamat dunia dan akhirat. Tanpa  Pancasila saya tidak bisa seperti ini,” lanjut pria asli Suroboyo ini.

Pihaknya menyitir kalau akhir-akhir ini muncul tindakan kekerasan seperti peledakan bom, jelas pelakunya tidak memahami nilai-nilai Pancasila. ”Peledakan bom itu bertentangan dengan nilai Pancasila khususnya sila pertama dan kedua,” tandas Cak Bowo.

Para korban ledakan itu ciptaan Tuhan, harus dihormati. Nyawa adalah milik Yang Maha Esa.  Dan sesama manusia harusnya saling kasih menyayangi, saling menghargai. Kemudian sila ketiga Persatuan Indonesia mengandung pesan tak boleh adanya pecah belah. Walau ada kegiatan pemilihan umum misalnya masyarakat harus tetap bersatu.

Pria yang sudah malang melintang puluhan tahun di dunia hukum ini juga menyoroti banyaknya faham lain yang masuk ke Indonesia seperti ISIS, yang berpotensi  memecah belah persatuan. “Fenomena ini perlu dievaluasi, mengapa faham radikal bisa masuk,” kata Cak Bowo setengah bertanya.

Untuk itu, dia berpesan khususnya pada generasi muda agar selektif dalam bergaul. Jangan mudah ikut karena diiming-imingi dengan rayuan-rayuan yang tidak jelas sumbernya. (sam)