Ini Dia, Kisah Hebat Seorang Tagana Penyelam

623

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist pernah meriwayatkan “Ajari anakmu berkuda, memanah, dan berenang. Sunnah ini mengandung makna bahwa setiap orang termasuk anak kecil sekalipun harus siap menghadapi keadaan yang berbahaya yang ditimbulkan oleh bencana, termasuk menghadapi bencana tenggelam di sungai maupun di laut.

Memang, bencana bisa datang kapan saja, dimana saja, dan menimpa siapa saja. Tak peduli di kota maupun di desa. Seperti di Surabaya akhir-akhir ini hampir setiap hari terjadi bencana kebakaran dan seringkali ada juga orang meninggal karena tenggelam. Jika terjadi musibah orang tenggelam di sungai  maka berbagai stake holder/pemangku kepentingan seperti basarnas, marinir, Badan Penanggulangan Bencana (BPB) & Perlindungan Masyarakat (Linmas), dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) bersama-sama melakukan pencarian untuk dilakukan evakuasi.

Chusnul Ashadi (kanan). (Foto/nanang)

Adalah Chusnul Ashadi, warga Surabaya kelahiran 1983, seorang komandan regu  Linmas kota Pahlawan yang juga relawan Tagana selalu terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi orang tenggelam. Memang, alumni SMK Taruna ini bukan sekedar anggota Tagana biasa.

Dia memiliki wing selam dengan kemampuan Water Rescue/pertolongan dalam air. ”Saya mengikuti pelatihan water rescue yang diadakan Tagana dan Palang Merah Indonesia (PMI) dan dua kali mengikuti pelatihan yang diadakan Basarnas di Banyuwangi dan Jakarta tahun 2016,” kata Chusnul Hadi kepada Bisnis Surabaya, Rabu (30/5) lalu.

Berbekal hobby renang yang ditekuni sejak kecil, warga jalan Keputran IX ini tertarik untuk bergabung dengan Tagana Surabaya. Pada akhir 2007 dia mengikuti Pelatihan  Dasar Tagana di Pulungan Sedati Sidoarjo yang diadakan Karang Taruna Surabaya. Setelah memiliki Nomor Induk Tagana (NIAT) dia ditugaskan diberbagai kebencanaan seperti Gunung Merapi meletus, banjir di Sumberejo Pakal, kebakaran diberbagai tempat, dan pencarian orang tenggelam.

Penugasan di Gunung Merapi Jogjakarta, suami Wahyu Nurjanah, bersama dengan 3 orang anggota Tagana yang lain bertugas melakukan Assasment/penelusuran sebelum anggota Tagana yang lain ditugaskan disana.

Ditempat ini pula ayah dari Azwa Basyasyah Az Zahra, menyaksikan secara langsung wafatnya Mbah Marijan, juru kunci merapi dan 3 orang anggota Tagana yang meninggal karena terjebak dalam bunker yang dilewati aliran lava merapi

“Tugas water rescue yang pertama adalah di kali Banyuurip. Tetapi yang berkesan adalah pencarian anak punk yang terpeleset dan jatuh di Kali Wedok Jagir, karena Sumarno, yang menjabat Kepala Bakesbang & Linmas ikut langsung mendampingi saya langsung dalam pencarian,” kata penghobi sepak bola ini.

Sebagai seorang relawan yang memiliki keahlian khusus menyelam, Ashadi, menyadari bahwa dia harus siap 24 jam untuk menjalankan tugas evakuasi. Dia mengaku kadang – kadang sedih juga saat baru nyampai rumah tetapi harus berangkat lagi karena ada orang tenggelam yang harus segera ditolong. (nanang)