(bisnissurabaya.com) – Surabaya Barat menggeliat. Hal itu berkat kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang mempermudah proses perizinan membuat iklim investasi dibidang properti meningkat pesat. Apalagi, pembangunan dan perbaikan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, bandar udara juga digalakkan.

Saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan 8 perusahaan telah memulai pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) sepanjang 19,8 kilometer dengan  lebar 55 meter dan memiliki 14 jalur untuk menghubungkan Teluk Lamong dengan kawasan Surabaya Selatan. JLLB dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan yang selama ini terpusat di tengah kota.

Penetepan beberapa lokasi di Surabaya Barat seperti Mayjen Sungkono, HR Muhammad, Darmo Boulevard menjadi kawasan bisnis baru dengan konsep super blok atau bangunan multifungsi. Lokasi tersebut tidak hanya ditetapkan sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai sentra pengembangan pusat perbelanjaan modern (mall) dengan model pengembangan secara koridor.

Jalan yang ada di kanan-kiri jalan tersebut juga akan dirubah menjadi kawasan perdagangan dan jasa. Akses menuju kawasan Surabaya Barat  yang berbentuk arteri dan cukup lebar melalui Jalan Raya Darmo terus masuk ke Jalan Mayjen Sungkono, berdampak pada pesatnya pembangunan di Surabaya Barat.

Hal itu dibuktikan dengan adanya pengembangan pusat komersial seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan yang dilakukan Wika Group, Ciputra Group, PT Intiland Development. Wika Realty adalah anak perusahaan  Wika Group  yang tertarik mengembangkan kawasan Surabaya Barat.

Setelah sukses membangun Tamansari Papilio, mereka membangun Tamansari Emerald sebuah apartemen mewah di kawasan ekslusif Citraland, dan dekat Ciputra Golf, Ciwalk, Universitas Negeri Surabaya (Unessa). “Selama ini kami memegang komitmen tepat waktu kepada costumer terkait, pembangunan, penyerahan unit, dan penyerahan sertifikat,” kata Direktur Utama Wika Realty, Agung Saladdin, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Apartemen dengan 570 unit ini berdiri di area tanah seluas 6700 m2, mengusung konsep hunian residence, dengan 9 unit disetiap lantai yang dilengkapi fasilitas parkir dengan rasio 1:1, taman terbuka hijau, danau, golf, fitness centre, spa dan instalasi air siap minum.

“Kami tidak hanya menjanjikan hidup enak, tetapi juga mati enak. Karena itu kami mengkonectkan penghuni dengan fasilitas makam Keputih. Dan kami sudah membayar uang kompensasi makam kepada Pemkot Surabaya,” kata Agung Saladdin, didampingi Manager Tamansari Emerald Agung.

Saat ini harga investasi properti di wilayah Surabaya dari tahun ke tahun mengalami kenaikan sampai 30 persen. Untuk harga rumah mengalami kenaikan sebesar 26,6 persen. Sedangkan harga apartemen mengalami kenaikan 22 persen. Dari angka tersebut, dapat dilihat bahwa prospek investasi properti di Surabaya sangat menguntungkan. (nanang)