(bisnissurabaya.com) – “Horee libur panjang,” ujar Sasi, guru Sekolah Dasar Negeri di bilangan Jakarta Barat. Tak heran dia gembira karena cuti bersama lebaran ditambah tiga hari. Dengan demikian, cuti bersama menjadi tujuh hari. Jika ditotal libur lebaran menjadi 10 hari. Mulai 11 Juni hingga 20 Juni.

Sementara, tahun lalu libur bersama (termasuk libur hari raya Idul Fitri) adalah 7 hari. Keputusan libur bersama ini tentunya disambut gembira khususnya kalangan PNS dan instansi-instansi pemerintah. “Senang dong karena waktu kumpul keluarga bisa lebih lama. Beda dengan tahun lalu terpaksa pulang terbirit-birit karena memperhitungkan macet, dll. Belum lagi ada peringatan wajib masuk pada hari pertama. Kalau tidak, akan ada sanksi,” ungkap Sasi, yang berniat mudik ke kampungnya di Indonesia Timur.

Tulus Abadi. (Foto/ist)

PNS maupun pegawai instansi pemerintah boleh saja senang. Tapi, tidak demikian halnya dengan kalangan swasta yang sebelum penetapan libur lebaran oleh pemerintah, melakukan protes keras. Mereka menganggap perpanjangan libur dari yang tadinya 7 hari menjadi 10 hari mengganggu produktivitas.

Apalagi untuk swasta, konsekwensi dari penambahan libur itu adalah pemotongan cuti tahunan pegawai. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, mengatakan, tidak semua pekerja senang dengan kebijakan libur yang terlalu lama.

Karena cuti bersama yang diperpanjang akan mengurangi jatah cuti tahunan mereka. “Banyak karyawan keberatan karena karyawan kan punya hak cuti tahunan 12 hari. Dengan adanya cuti tahunan diperpanjang berarti hak cuti mereka terpotong,” katanya.

Sepakat dengan Hariyadi, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo, mengatakan, penambahan liburan merugikan pekerja karena cuti tahunan mereka dipotong. Padahal, bisa saja mereka (pekerja) sudah memiliki rencana tertentu untuk memanfaatkan jatah cuti tahunannya.

“Negara sudah masuk wilayah privat terlalu jauh. Harusnya, tak ada tambahan cuti lebaran,” kata Agus, seraya mengingatkan tidak semua penduduk Indonesia beragama Islam. Belum lagi, sektor industri, pasti dirugikan. “Bagaimana bila industri mendapat ekspor luar negeri pada akhir Juni tapi tidak bisa dikerjakan lantaran pegawai masih libur. Kerugian ini kan yang menanggung pihak perusahaan bukan negara,” tegasnya.

Haryadi Sukamdani. (Foto/ist)

Terjadinya polemik atas keputusan pemerintah yang menambah waktu cuti lebaran, kata Ketua  Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dalam proses pembuatan kebijakan publik.

“Semua pemangku kepentingan, apalagi pemangku kepentingan utama harus diajak bicara dan dilibatkan secara intens,” ujar Tulus. Harusnya, pemerintah mempunyai kalkulasi yang matang dan komprehensif tentang seberapa signifikan benefit ekonomi mudik lebaran dibanding dampak sosial-ekonomi lain.

Berbagai pandangan kontra tersebut akhirnya didengar pemerintah. Meski keputusan cuti bersama tidak berubah, namun pemerintah memberi catatan yakni untuk swasta bersifat fakultatif.

“Keputusan cuti bersama di perusahaan swasta disesuaikan saja berdasarkan kesepakatan pengusaha dan pekerja. Mereka bisa menentukan sendiri kapan mau cutinya. Karena biasanya permintaan pada lebaran itu tinggi, dan perusahaan harus kejar target. Jadi silahkan disesuaikan,” ungkap Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri.

Negara Banyak Libur

Bicara libur (hari raya plus cuti bersama), Indonesia termasuk negara terbanyak hari liburnya. Tahun ini saja, pemerintah sebelumnya menetapkan hari libur nasional dan cuti bersama 21 hari. Yakni, hari libur nasional 16 hari dan cuti bersama 5 hari untuk Idul Fitri dan Natal.

Namun, dengan keputusan yang diumumkan Senin 7 Mei lalu ada penambahan 3 hari. Dengan demikian, total libur nasional dan cuti bersama menjadi 24 hari. Meski jumlah hari libur Indonesia termasuk terbanyak di dunia, namun, ranking pertama negara yang banyak libur nasionalnya berdasarkan data worldatlas adalah Kamboja dengan 28 hari libur.

Agus Pambagyo. (Foto/detik)

Banyaknya hari libur di Kamboja terkait dengan perayaan-perayaan agama Buddha. Kamboja menggunakan kalender tradisional Khmer yang didasarkan pada pergerakan bulan.

Di Asean, setelah Kamboja, Indonesia berada di ranking kedua. Kemudian disusul Myanmar 20 hari libur, Filipina 18 hari libur, Thailand 16 hari libur,  Malaysia, Vietnam, Brunei 15 hari libur, Singapura 11 hari libur dan Laos di bawah 15 hari.

Sementara, Sri Langka, berada di ranking kedua dunia dengan 25 hari libur. India juga masuk dalam negara dengan jumlah libur terbanyak, meski untuk tahun ini tidak sebanyak Indonesia yang mencapai 24 hari.

India memiliki 21 hari libur. Diantaranya adalah liburan perayaan keagamaan seperti Diwali, Maha Shivratri, Vaisakhi, Idul Fitri, Natal, dll. Namun, kata worldatlas, tiga hari libur utama India adalah Hari Kemerdekaan (15 Agustus), Hari Republik (26 Januari) dan Ulang Tahun Mahatma Gandhi (2 Oktober). (diana runtu)