Diacuhkan Korban yang Hendak Ditolong

30

(bisnissurabaya.com) – Bencana bisa datang kapan saja dan dimana saja. Apalagi geografi di Indonesia, hampir semua potensi bencana terdapat disini. Mulai dari bencana alam seperti tsunami, banjir, tanah longsor, gempa bumi dan gunung meletus. Serta bencana non alam seperti kebakaran, dan kecelakaan lalu lintas.

Kehadiran pemerintah pada saat tanggap maupun pasca bencana, sangat diharapkan para korban maupun masyarakat terdampak. Pemberian bantuan berupa rescue, dapur umum, logistic, dan rehabilitasi sosial trauma healing sangat dirasakan masyarakat.

Ditengah keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki pemerintah dibidang kebencanaan, Taruna Siaga Bencana (Tagana) sebuah organisasi relawan kebencanaan berbasis masyarakat  yang dilahirkan Kementerian Sosial ini mampu menutupi kekurangan tersebut.

Adalah Laili Rochmatin, perempuan kelahiran Surabaya 5 Agustus 1983, sejak 2006 dia bergabung sebagai anggota Tagana. Perempuan lulusan Universitas Muhammadiyah ini mengikuti pendidikan dan latihan di daerah Juanda untuk mendapatkan Nomor Induk Anggota Tagana (NIAT) yang dikeluarkan Kementerian Sosial. Saat ini dia aktif bertugas bersama sekitar 150 orang yang terdiri dari anggota Madya dan Muda.

“Tugas utama seorang Tagana adalah untuk membantu pemerintah dalam penanganan korban. Mulai evakuasi kebencanaan, pendampingan bagi pengungsi bencana, pendistribusian makanan dari dapur umum, hingga pendampingan psikososial bagi korban pasca bencana,” kata Laili Rokhmatin, anggota Tagana Surabaya kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Istri dari Firman Adhi Sukma, ini juga mengamalkan doktrin one corps, one rule, dan one command yang dipelajarinya diberbagai penugasan banjir dan kebakaran di Surabaya. Seperti di Sumberrejo, Banyuurip, Wonokromo, dan Gadel. Ia juga aktif di Posko TAGANA JATIM untuk membantu menyiapkan kelengkapan dan bantuan untuk diberangkatkan ke daerah penugasan.

Seperti bencana banjir di Tuban, Lamongan, dan Bojonegoro.  Maupun gunung meletus Merapi, Kelud, dan  Agung di Bali serta musibah tanah longsor di Pacitan. “Hal yang menyedihkan bagi seorang relawan adalah diacuhkan oleh orang yang hendak kita tolong. Saya pernah mengalami hal itu saat bertugas menangani korban pengungsi Ghafatar. Rupaya tak semua maksud baik disambut baik,“ kata pengusaha catering ini.

Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun yang ke-14, pada Minggu 8 April 2018 ibu dua anak ini bersama 100 orang anggota Tagana Surabaya menggelar kegiatan bakti sosial. Diantaranya, pemungutan sampah pengunjung di CFD Bungkul, pemberian santunan ke anak yatim piatu di panti Darul Ilmi Wonokromo dan pemberian santunan kepada keluarga Tagana yang meninggal.

“Saya berharap ada perhatian lebih untuk anggota Tagana yang sudah mendarmabhaktikan dirinya membantu pemerintah dibidang kebencanaan. Selama ini pemerintah sudah memberikan BPJS, syukur pemerintah bisa memberikan rumah susun bagi anggota Tagana yang tidak mampu beli rumah,” ujarnya. (nanang)