(foto/ist)

(bisnissurabaya.com) – Bank Indonesia (BI) dalam survei harga properti residensial menyebutkan harga properti residensial pada triwulan IV 2017 secara triwulanan meningkat sebesar 0,55 persen quarter to quarter/qtq ). Jumlah ini sedikit lebih tinggi dibandingkan 0,5 persen qtq pada triwulan sebelumnya.

Dengan rincian tahunan, indeks harga properti juga meningkat lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, dari 3,32 persen year on year (yoy) menjadi 3,5 persen yoy. BI juga menyebutkan, pertumbuhan harga ini terjadi pada semua tipe rumah, terutama pada rumah tipe menengah yang naik sebanyak 0,79 persen qtq.

Dengan peningkatan penjualan properti residensial itu, penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) pada triwulan IV 2017 juga menunjukan kenaikan. Lebih lanjut bank sentral memprediksi harga properti residensial dan harga properti tetap akan terus mengalami kenaikan di triwulan I 2018.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menganggap tren peningkatan permintaan perumahan tetap akan meningkat tahun ini meski harga properti cenderung naik.

“Kami optimistis tahun 2018 ini pasar properti lebih baik daripada sebelumnya,” kata Dasuki Amsir Dirut BBTN ini. Sehingga pihaknya mengharapkan pertumbuhan dari semua jenis produk KPR yakni KPR subsidi yang diharapkan tumbuh 19 persen secara yoy menjadi Rp 25 triliun.

Sedangkan untuk KPR non subsidi, ditargetkan mengalami pertumbuhan menjadi sebesar Rp 21 triliun atau sekitar 28 persen (yoy).

Beberapa strategi untuk menyerap pasar KPR yang dilakukan BTN antara lain lewat produk KPR Zero. “Program ini memberikan keringanan untuk debitur yang hanya membayar cicilan bunga saja untuk dua tahun pertama ( grace period pokok),” jelasnya.

Untuk KPR jenis ini, KPR Zero BTN menyasar segmen masyarakat menengah. Khususnya masyarakat berpenghasilan tetap atau fixed income . Untuk saat ini bunga KPR BTN untuk fix income dipatok 8 persen fixed 3 tahun dan 9 persen fixed 5 tahun. Seperti diketahui akhir 2017, Bank BTN total telah menyalurkan kredit perumahan sekitar Rp 140 triliun ( unaudited) atau naik 20,41 persen secara yoy dari Rp 116,54 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Tak hanya BTN, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga megakui, tahun lalu pertumbuhan kredit perumahan cukup stabil. Meski tidak merinci secara detail, Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja membeberkan realisasi KPR tahun lalu menembus Rp 79 triliun.

Jika memakai pencapaian outstanding KPR tahun 2016 lalu yang mencapai Rp 63,95 triliun, jumlah tersebut meningkat sebanyak 23 persen (yoy). “Di BCA KPR itu untuk cicilan saja Rp 1 triliun per bulan. Artinya setahun bisa ada Rp 20 triliun ruang untuk pertumbuhan,” terang Jahja.

Kepala OJK Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono, intermediasi perbankan sudah mulai tumbuh ditunjukkan angka kredit perbankan hingga akhir November 2017 telah meningkat sebesar Rp228 triliun, sehingga total kredit perbankan mencapai Rp4.605 triliun atau tumbuh sebesar 7,47 persen ( yoy).

Mengenai outlook sektor jasa keuangan tahun 2018, OJK melihat bahwa seiring dengan membaiknya prospek ekonomi global dan domestik di 2018, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan diperkirakan akan meningkat.

“Kami optimis bahwa  kredit perbankan termasuk KPR pada tahun 2018 mendatang dapat tumbuh dalam rentang 10-12 persen demikian halnya dengan Dana Pihak Ketiga yang kami perkirakan mampu tumbuh dengan kisaran 10-12 persen” kata Heru.

Selain itu, dengan fundamental ekonomi yang terjaga serta perbaikan kondisi ekonomi yang terus berlanjut, diperkirakan dari pasar modal domestik akan mampu meraup dana pembiayaan sebesar Rp253,94 triliun di tahun 2018.

Sementara, tingkat kredit/pembiayaan bermasalah secara umum juga masih berada dalam level yang terjaga, yakni sebesar 2,89 persen untuk perbankan dan 3,08 persen untuk perusahaan pembiayaan.

Sedangkan tingkat suku bunga perbankan, baik bunga deposito maupun tingkat bunga pinjaman menunjukkan tren menurun. Data sampai dengan November 2017 menunjukkan fakta bahwa suku bunga deposito 1 bulan rata-rata 5,72% persen turun 64 bps dibanding tahun lalu dan suku bunga kredit rata-rata 11,45 persen turun 72 bps dibanding tahun lalu.

Sebab selama satu tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2017 sebesar 5,16 persen lebih tinggi dibandingkan Nasional sebesar 5,06 persenm Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, sektor jasa keuangan juga menunjukan kinerja yang positif.” Sektor properti diprediksi akan naik, meski harganya tinggi,” ujarnya. Dengan risiko kredit masih terkendali pada level NPL sebesar 3,3 persen bercermin dari 2017 kemarin yang menunjukan kinerja positif. (ton)