Vonis Hukuman Proporsional, agar Terhindar Darurat Narkoba

156

(bisnissurabaya.com) – Penanganan bahaya narkoba tidak boleh setengah-setengah agar tidak terjadi penyalahgunaan. Termasuk dalam hal vonis  hukuman  kasus narkoba, penegak hu kum tidak boleh pandang bulu sehingga membawa efek jera pada pelaku. Pemberian hukuman pada pengguna dan pengedar maupun bandar harus diterapkan proporsional.

Demikian disampaikan Advokad Senior Dr. Sunarno Edy Wibowo SH, MHum, saat dialog “Hukum Dimata Bowo” di Surabaya TV, Jumat (23/2) pukul 20.00 WIB. Hukuman terhadap pengguna dan bandar harus berbeda. Bandar harusnya dijatuhi hukuman  setimpal mengingat dengan tindakannya itu memiliki dampak luas, antara lain merusak mental generasi bangsa.

“Undang-undang No.35/2009 tentang Narkotika sudah jelas. Mengatur tentang hukuman yang harus diterima pada mereka yang menggunakan narkoba dan sejenisnya. Para penegak hukum harus  berpedoman Undang-undang itu. Kalau tidak bisa menerapkan bisa  amburadul tatanan negara ini,” tandas Cak Bowo panggilan akrab Advokad senior ini.

Advokad senior ini sering merasa prihatin terhadap keputusan pengadilan yang tidak mencerminkan keadilan.  Pernah dirinya mengamati seorang pelajar yang terjerat kasus narkoba dituntut hukuman 8 tahun oleh jaksa. Padahal anak ini belum tentu bersalah karena dicakot oleh teman yang sudah terlanjur tertangkap.

Disisi lain dijumpainya keputusan pengadilan terhadap bandar besar yang divonis ringan hanya 6 tahun. Padahal jumlah narkoba yang diperdagangkan jumlahnya puluhan kilogram bahkan kuintalan. “Ya untungnya pak Hakim masih punya hati nurani, sang pelajar tadi hanya diputus hukuman 5 tahun penjara,” papar pria yang sudah malang melintang puluhan tahun di dunia hukum ini.

Untuk itu pihaknya memohon para penegak hukum harus bertindak proporsional. Jangan sampai karena iming-iming uang mempengaruhi besarnya putusan hukuman. Dan lagi jangan sampai putusan itu berdasar dendam pribadi, akan tidak adil itu.

“Kalau memang pengguna yang hanya membawa narkoba dibawah 1 gram harus dilaksanakan rehabilitasi ya tempatkan di panti rehab. Jangan sampai karena dia tidak punya uang  terus diputus lain, tidak di rehab,” tandas pria asli Surabaya ini.

Pihaknya juga tidak setuju kalau artis-artis yang tersandung narkoba hanya dihukum rehabilitasi, karena memiliki cukup fulus. “Hukum harus diegakkan sesuai dengan kesalahan yang diperbuat,” tandas cak Bowo.

Dilain pihak Cak bowo juga berpesan pada generasi muda, jauhilah narkoba. Jangan coba-coba mendekat atau bergaul dengan teman yang bermain dengan barang haram itu. Perbanyaklah belajar agama, dekati orang-orang yang positif perilakunya.

Cak Bowo juga mengingatkan bahwa bahaya narkoba sudah mencengkram Indonesia. Saat ini Indonesia menjadi pasar narkoba terbesar di level Asean.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) memperlihatkan 4 juta orang tersangkut dalam penyalahgunaan narkoba. Mereka terdiri dari 1,6 juta yang mencoba memakai, 1,4 juta teratur memakai, dan 943 ribu orang yang sudah pada level pecandu narkoba.

Penyalahgunaan narkoba terjadi di berbagai tingkatan usia. Rentang usia itu mulai dari 10 tahun hingga 59 tahun kini sudan memakai narkoba.

Penyalahgunaan narkoba menyebabkan berbagai kerugian, mulai dari jatuhnya korban jiwa hingga kerugian ekonomi. Sebanyak 12.044 orang per tahun atau 33 orang per hari meninggal dunia akibat penyalahgunaan narkoba. (sam)