Probolinggo,(bisnissurabaya.com) – Bulan berpendar begitu indah. Samar – samar alunan pujian kepada Sang Hyang Widi terdengar merdu, diiringi kepulan aroma dupa menyebarkan semerbak mewangi hampir keseluruhan Pura di tengah Gunung Bromo ini. Yadnya Kasada. Ketika perjanjian lama patuh terlaksana, memberikan sedekah hasil bumi ke dalam kawah gunung, begitu khidmat. Sekelumit perjalanan ritual ini diurai dalam syair doa indah oleh Dukun Pandita Sutomo, sebuah kisah dramatis dan heroik Yadnya Kasada.

Pelaksanaan upacara Adat Kasada Bromo 2017 ini dilaksanakan pada 9 – 10 Juli 2017, dimana acara dimulai pada 9 juli malam, berlokasi di Pura Luhur Poten yang terletak di kaki Gunung Bromo. Dalam penanggalan Jawa, Hari Raya Kasada diselenggarakan pada tanggal 16 bulan Asuji atau Kasada (bulan kedua belas) tahun Saka, pada saat bulan purnama penuh.

Upacara diikuti seluruh masyarakat Suku Tengger dengan membawa Ongkek, biasanya dipikul berisi tandur tuwuh bumi Tengger, ternak peliharaan atau ayam, untuk dilabuhkan sebagai kurban ke dalam kawah Gunung Bromo.Tetapi sebelumnya harus dimintakan doa Japa Mantra kepada Dukun Adat yang berada di Poten Lautan Pasir Gunung Bromo, setelah itu dilabuhkan.

Bukan hanya itu saja, Upacara Kasada merupakan upacara ada yang bertujuan untuk memilih tetua adat pada tiap-tiap desa yang di huni Suku Tengger sekaligus upacara persembahan untuk Sang Hyang Widi sebagai wujud syukur atas karunia yang di berikan. Dukun Pandita Suyitno dari Desa Sukapura, juga turut menyampaikan doa Mulunen, meskipun tahun ini tidak ada pelantikan dukun baru, namun doa Mulunen tetap dipanjatkan.

Ujian Mulunen memang diperuntukkan bagi Dukun baru, yaitu ujian membaca mantra secara tepat tidak boleh ada kekeliruan, karena merupakan syarat utama lulus dan tidaknya sang dukun.

Upacara Kasada adalah upacara yang agama Hindu yang dilakukan oleh suku Tengger, namun tidak dilakukan oleh pemeluk agama Hindu yang lain. Tapi beberapa umat Hindu dari Bali juga nampak turut hadir dalam ceremonial ini.

Berawal dari sebuah legenda, Kasada merupakan syarat yang diberikan oleh anak terakhir Joko seger dan Roro Anteng. Putra bungsu mereka harus di persembahkan untuk Bromo. Dalam cerita leluhur orang Indonesia, nazar juga acapkali dipakai sebagai janji (yang akan dilakukan) bila doa terkabul. Misalnya dalam satu versi kisah legenda Roro Anteng dan Joko Seger.

Konon, dalam legenda Suku Tengger di sekitar Bromo, dikisahkan Roro Anteng (putri Majapahit) dan Joko Seger (anak pendeta) sudah menikah bertahun-tahun tapi tidak juga dikaruniai anak. Hingga akhirnya Joko Seger bernazar, bila dia dikaruniai 25 anak maka salah satu di antaranya akan dijadikan sebagai sesajen di Kawah Gunung Bromo.

Begitu selesai mengucap ikrar nazar itu, tiba-tiba api menyembur dari tanah di kawah Gunung Bromo sebagai tanda doanya didengar oleh Tuhannya. Beberapa lama kemudian Roro Anteng mengandung anak pertama, kedua, ketiga, hingga anak terakhir ke-25. Kedua pasangan suami istri itu bahagia dan membesarkan anak-anak mereka hingga dewasa.

Sayang Joko Seger lupa dengan nazar yang dia ucapkan ketika belum memiliki anak. Hingga akhirnya dia ditegur oleh Tuhan dalam mimpinya. Saat bangun dia gelisah dengan hutang nazar itu. Lalu dia mengumpulkan ke-25 anaknya dan menceritakan tentang mimpi tersebut. Dari seluruh anaknya, ternyata cuma Kusuma, anak terakhir yang mau dijadikan sebagai sesajen.

Masalahnya, Joko Seger dan Roro Anteng sangat mencintai anak bungsunya itu, lebih dari anak-anak lainnya. Tapi karena sudah menjadi kemauan Kusuma, akhirnya Joko Seger mengabulkan niat itu. Namun, Kusuma membuat syarat, yakni meminta diceburkan ke kawah pada tanggal 14 Kasada (tanggal Jawa). Dia juga meminta setiap tahun pada tanggal tersebut diberi sesajen berupa hasil bumi yang dihasilkan oleh ke-24 saudaranya.

Tradisi Kasada ini pun akhirnya dipenuhi hingga sekarang oleh masyarakat Tengger yang mengaku sebagai keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger. Cerita versi lain, untuk mendapatkan 25 anak itu Roro Anteng dan Joko Seger bersemedi, hingga akhirnya mendapat bisikan dari Sang Hyang Widi Wasa yang menjanjikan 25 anak. Syaratnya, pasutri itu akan diberikan anak tetapi anak terakhirnya harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Dalam Upacara Kasada, perlengkapan sesaji yang digunakan memiliki dua unsur penting yaitu kepala bungkah dan kepala gantung. Sedangkan bagi beberapa orang yang memiliki permohonan khusus, disyaratkan membawa kambing atau ayam. Terdapat tiga tempat penting dalam prosesi perayaan Kasada yakni rumah dukun adat, pura Poten Luhur dan kawah Gunung Bromo. Upacara Kasada ini dilaksanakan mulai dari tengah malam hingga dini hari, untuk melaksanakan perayaan ini, dilakukan persiapan sejak pukul 00.00 WIB yang dimulai dengan bergerak dari depan rumah dukun adat dan sampai di Pura Luhur Poten sekitar pukul 04.00 WIB.

Sebelum upacara dilaksanakan dukun pandita terlebih dahulu melakukan semeninga, yaitu persiapan untuk upacara yang bertujuan memberitahukan para Dewa bahwa ritual siap dilaksanakan. Ketika sudah sampai di Pura Luhur Poten semeninga kembali dilaksanakan. Ritual Kasada dilaksanakan dengan menempuh perjalanan dari Pura Luhur Poten menuju kawah Gunung Bromo.

Ritual Kasada dimaknai berbeda-beda oleh setiap kalangan. Pemaknaan ritual Kasada juga tergantung dari sudut pandang pemaknaannya. Ritual Kasada dimaknai sebagai peneguhan kosmologi komunitas Tengger, bahwa Gunung Bromo merupakan pusat dunia. Hal ini terungkap pada zaman dahulu pembangunan rumah maupun sanggar menghadap ke arah Gunung Bromo. Ritual Kasada juga dimaknai sebagai identitas komunitas Tengger sebagai anak keturunan Majapahit.

Pada masa sekarang yang mengikuti upacara Kasada tidak hanya suku Tengger yang beragama Hindu saja namun juga warga Tengger yang beragama Islam maupun Kristen yang sudah keluar daerah datang dan berkumpul kembali. Tahun ini, peringatan Yadnya Kasada 2017 di Gunung Bromo Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sangat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah daerah setempat menggelar pra-event bernama Eksotika Bromo pada 8-7 Juli 2017. Ribuan wisatawan domestik dan internasional memenuhi lautan pasir.

“Kali ini Kasada sangat berbeda, ada Eksotika Bromo. Ekstotika digarap swasta dan pemda serta digelar tiap pukul 14.00. Kasada menyedot perhatian wisatawan, dan membuat mereka berlama-lama di Bromo supaya bisa menginap dan berwisata lebih lama, tak hanya melihat sunset, lalu pulang. Di pre event Kasada ini wisatawan disuguhkan berbagai gelaran kesenian,” kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Budaya Probolinggo Sidik Wijanarko, saat dijumpai di lokasi acara, pekan lalu.

Seperti diketahui, Bromo merupakan salah satu dari 10 destinasi prioritas yang ditetapkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Lebih lanjut Sidik menjelaskan, selama dua hari panitia menampilkan aneka seni tradisional masyarakat Tengger di antaranya Sendratari Kidung Tengger, Puisi, Kidung tengger, Jaranan Wahyu Tunas Budaya dan lain-lain.

Tidak hanya itu, hadir pula artis dan juga pemain film Ayushita Widyartoeti Nugraha dan Sha Ine Febriyanti. Dua artis ibukota ini tampil bergantian pada tanggal 7 dan 8 Juli. Mereka membawakan puisi dengan tema Puisi Kidung Tengger. “Kami bersyukur acara berlangsung sukses menghipnotis wisatawan yang datang, Sendratari Kidung Tengger, Tari Topeng Gunungsari, Perkusi UI Daul Madura yang merupakan perkusi berlatar etnik Madura. Ada pula Singo Ulung tarian khas Bondowoso, Jaranan Wahyu Tunas Budaya, Jaran Slining Lumajang, Tari Mahameru, serta Reog Ponorogo, sukses membuat wisatawan tidak hanya menonton tetapi ikut mengabadikan melalui ponsel dan kamera miliknya, kami senang melihatnya,” kata Sidik.

Eksotika Bromo di tutup dengan menari bersama yang dilakukan oleh seluruh penampil. Dengan diiring musik Jegog Suar Agung Bali, yang merupakan perkusi bambu berlatar etnik dari Jembrana, Bali. Kemenpar memang fokus dalam percepatan 10 destinasi prioritas atau yang biasa disebut dengan 10 Bali Baru. Kemenpar mendukung acara tersebut di bawah koordinasi Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Asdep Segmen Pasar Personal Kemenpar.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti, yang didampingi Kepala Bidang Promosi Wisata Budaya Asdep Segmen Pasar Personal Kemenpar Wawan Gunawan, mengatakan, kemeriahan Eksotika Bromo tidak sampai situ dan terus berlanjut.

Di lokasi berbeda namun masih di kawasan Bromo, tepatnya di Agrowisata Strawberry Desa Jetak, dua malam berturut-turut akan ditampilkan Pawai obor, Tari Topeng Gunungsari, Konser Musik Wadya Bala STKW, Tari Pepe ‘pepe’ Bainea  Ri Gowa, serta Jaranan Campursari.

“Penampilan budaya dalam eksotika berpotensi menarik wisatawan. Ini akan membuat Wisman berlama-lama, asumsi kami mereka akan empat hari berada di Bromo. Disana juga sangat lengkap, karena ada objek wisata penunjang, seperti gua Batman, seruni poin dan kebun Stroberi. Bromo sudah terkenal alamnya, sekarang budayanya yang bakal dikenalkan, ini harus terus dijaga,” kata Esthy.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai bahwa perhelatan ini sebagai budaya dan tradisi yang memiliki kearifan lokal di Bromo. Yang pasti, dia mengingatkan agar atraksi alamnya diperhatikan dengan baik. Atraksi ini juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. “Hal ini bisa mendongkrak ekonomi warga desa, terutama yang berjualan makanan dan minuman serta sewa penginapan. Tapi masalah sampah harus tetap diperhatikan untuk menjaga agar Bromo tetap lestari, prinsipnya semakin dilestarikan semakin mensejahterakan, buat nyaman wisatawan berlama-lama di Bromo, agar mereka semua tahu, bahwa Indonesia punya semuanya. Mau Gunung ada, mau laut ada, budaya sangat lengkap, keindahan alam tiada tandingannya,” kata Menpar Arief Yahya. (lely)