Perjalanan Panjang Penemu Konstruksi Sarang Laba-Laba

398

(bisnissurabaya.com) – Miris untuk dikenang. Namun kejadian bencana alam terdahsyat pada 26 Desember 2014 silam tak mungkin serta merta terhapus begitu saja. Ratusan ribu korban jiwa melayang, ratusan bangunan runtuh tanpa bekas terkoyak gempa tersapu ombak ganas menggulung daratan.

Akan tetapi ada pemandangan menakjubkan. 32 gedung di Simeuleu Aceh terselamatkan dari kejadian alam setara ledakan 25000 Bom Hiroshima tersebut. “Inilah campur tangan Tuhan,” ungkap Ir Ryantori. Gempa maha dahsyat 9,3 SR di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) disebut sebagai gempa terbesar nomor tiga di dunia.

Namun, gedung RSUD, gedung Dinas Kesehatan, gedung BAPEDA, gedung Pasar Simeuleu, gedung Pemerintah Kabupaten Simeuleu dan satu blok ruko tetap berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik ketika dilanda gempa NAD. Apa pasal? Setelah ditelisik ternyata adalah penggunaan fondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL). Sebuah sistem fondasi dangkal pertama di dunia yang mampu memaksa tanah untuk berfungsi sebagai struktur tanpa membuat tanah menjadi beban.

KSLL merupakan konstruksi komposit antara beton bertulang dan tanah. Namun memiliki kemampuan jauh di atasnya. Karena tidak memikul beratnya sendiri, namun begitu ada gaya horizontal maka massa tanah akan bekerja. Sehingga membuat lantai dasar menjadi satu kesatuan.

Pada saat gempa besar, permukaan bumi bergolak seperti badai, dan gedung yang menggunakan Sarang Laba-Laba akan bergerak selayaknya kapal di atas lautan.

Bahkan, menurut ahli nuklir Rusia, kedahsyatan tsunami Aceh memiliki perjalanan sepanjang 6500 km, selebar 50 km. Dan mampu mengangkat ke atas setinggi hingga 30-50 meter,  setelah itu dilempar ke daratan 200-800 km/jam. Jika dihitung dengan teknik tenaga nuklir sebesar 25000 Bom Hiroshima meledak secara bersamaan.

Lalu siapakah penemu konstruksi yang telah mencetak rekor dunia sebanyak tiga kali ini. Ternyata mereka adalah alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), yaitu Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto. Perjalanan penemuan KSLL ini penuh perjuangan keduanya. Awal cerita dimulai saat Ir. Ryantori melamar di sebuah perusahaan konstruksi di Surabaya pada 1976.

“Pak Cip (Ir. Sutjipto), sehari sebelumnya melamar di situ. Beda lima angkatan dari saya. Waktu itu Pak Cip cuti kuliah dan sudah bekerja. 1976 awal beliau pindah kerja,  sehari kemudian saya melamar di tempat yang sama,” cerita Ir. Ryantori yang akhirnya meminang sekretaris perusahaan menjadi pendamping hidupnya.

Merekapun mendapat tantangan dari Direktur Teknik karena perusahaan sedang ada masalah pada tiga proyek di Kawasan Surabaya Timur akibat semua lantai dasarnya rusak.

“Akhirnya kami berdua ke sana. Yang menarik, dari ketiga bangunan itu dua fondasi dangkal dan satu fondasi dalam. Dua bangunan lantainya naik, satunya lantai ambles. Jadi kesimpulannya kalau begitu harusnya gedung tidak boleh dipisahkan antara lantai dengan kolom harus satu kesatuan,”ulasnya panjang lebar.

Dari situ akhirnya mereka berdua melakukan diskusi dan berkembang menjadi sebuah penelitian untuk menemukan solusinya. “Kami diskusi hingga gayeng, cocok kayak tumbu nemu tutup. Seminggu dua kali hingga tiga kali,”tambahnya.

Sampai suatu hari mereka membawa hasil penemuan tersebut ke kampus ditunjukkan kepada dosen-dosen. Sangat disayangkan, tidak ada respon. Bahkan para dosen menyebut bahwa ini bukan penemuan tapi akal-akalan.

“Akhirnya kami nekat kirim surat ke semua kampus nantang untuk presentasi,”ujar Ir. Ryantori. Di salah satu kampus di Jakarta, tidak disangka mereka bertemu Prof. Dr. Ir. Rooseno yang digelari Bapak Beton Indonesia, sekaligus mantan Menteri PU pertama zaman Bung Karno.

“Terus beliau mendengarkan kami presentasi setelah selesai kami dipanggil beliau menawarkan diri menjadi mentor. Bayangkan saja, seperti nemu durian runtuh. Wong kami ini sedang cari mentor dan ditolak di kampus,”papar pria kelahiran Surabaya tersebut.

Merekapun dimentori selama lima tahun. Pada awalnya, Prof Rooseno menyebut penemuan itu konstruksi komposit. Hingga Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto ditugaskan mencari literatur yang berhubungan dengan kompisit di Jogjakarta

Butuh waktu lima tahun untuk memastikan rumus serta menentukan positioning Sarang Laba-Laba paling tepat. Di mana Co Create cocok adalah fondasi tanggung 2-8 lantai.

“Prof. Rooseno berpesan jadilah raja di bangunan tanggung, karena bangunan tinggi luas tapaknya kecil,”paparnya tatkala dijumpai di salah satu hotel bintang empat Surabaya. Pada 1990 Ir. Sutjipto memutuskan masuk kancah politik mengusung PDIP, suaranya paling keras menjadi oposisi dari rezim Soeharto kala itu.

“Tahu-tahu, Sarang Laba-laba di black list oleh ring satu Pak Harto. Tapi jalan Tuhan menunjukkan bahwa saat kejadian gempa di Aceh membuka mata. Ini menjadi bukti solusi tahan gempa. karena tidak melawan. Pokoknya banyak hambatan di dalam perjalanan tapi saat ini rasanya waktunya berkembang,”kenang pria yang juga dikenal sebagai penggerak Filateli Indonesia dan penemu Abjad Ryantori ini.

Desain teknik ilmu sipil sebelum adanya Sarang Laba-Laba menganut sistem individualisme. Namun Sarang Laba-Laba merupakan konstruksi gotong royong seluruh tapak bangunan. Dan 85 persen fondasi ini menggunakan tanah. Bisa dipastikan meminimalir budget.

Sarang Laba-Laba adalah fondasi dangkal tapi punya banyak kelebihan dengan tiga rekor dunia. Bahkan dari penemuannya sendiri sudah menjadi suatu rekor . “Hampir seribu gedung telah memakai Sarang Laba-Laba. Kita sudah hak paten seri tiga. Semua berkat jalan Tuhan,”pungkasnya. (lely)