Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Bantaran sungai biasanya, identik dengan sumber kekumuhan. Hal itu tidak berlaku bagi rumah kampung di pojok Kota Surabaya. Bahkan, warga penghuni kampung itu yang terletak di bantaran Sungai Sarioso, Kecamatan Asemrowo, menyulap permukiman menjadi kampung warna warni yang indah untuk dilihat.

Perubahan drastis ini merupakan hasil kreativitas warga setempat selama pandemi Covid-19. Karena adanya pembatasan sosial dan warga banyak berdiam di rumah.

Selain mengecat rumah dengan warna-warni, warga juga membuat kebun hidroponik untuk ketahanan pangan selama pandemi.

Inilah pemandangan warna – warni yang menghiasi wilayah bantaran sungai di desa Greges Timur Kelurahan Sarioso Kecamatan Asemrowo Surabaya. Rumah – rumah penduduk yang dulunya kumuh dan kotor, kini berubah menjadi mentereng. Warga setempat sengaja menyulap desa mereka agar tampil lebih bersih dan sehat.

Tak hanya mengandalkan sisi pewarnaan, seluruh jalan dan lorong di kampung ini dipenuhi tanaman peneduh dan bunga. seluruh perawatan, dilakukan secara bergiliran.

“Perubahan wilayah bantaran sungai di Greges Timur ini mengundang perhatian warga. Tampilan warna warni bangunan rumah dari atas jembatan membuat penasaran warga untuk berkunjung,” kata Ketua RW sekaligus penggagas kampung warna-warni, Eko Prasetyo, di Surabaya Selasa (8/6).

Ia mengaku, tingkat kesulitan yang dialami warga terbilang tinggi. Sebab, warga harus mengecat dinding dan papan bagian belakang rumah dari atas sungai. Perubahan drastis ini merupakan hasil kreativitas warga setempat selama pandemi Covid-19.

Karena adanya pembatasan sosial dan warga banyak berdiam di rumah. Selain mengecat rumah dengan warna warni, warga juga membuat kebun hidroponik untuk ketahanan pangan selama pandemi.

Perubahan wilayah bantaran sungai menjadi kampung warna-warni ini diapresiasi camat setempat. “Saya berharap wilayah lain di Kecamatan Asemrowo dapat mencontoh upaya mandiri warga Greges Timur ini,” kata Camat Aesemrowo, Bambang Udi Ukoro, di Surabaya Selasa (8/6).

Saat ini, warga mulai melakukan budidaya tanaman hidro ponik dan pembuatan bank sampah untuk ketahanan pangan selama pandemi. Hal ini untuk membantu perekonomian warga setempat yang berjumlah 55 kepala keluarga.

Warga juga mulai menawarkan wisata bantaran sungai, untuk menikmati pemandangan mangrove dan deretan rumah warna warni. (farid/stv)