Warga Dukung Terwujudnya KEE Ujung Pangkah

13

Gresik, (bisnissurabaya.com) – Kawasan Ekosistem Esensial/KEE Mangrove Ujungpangkah  di Kabupaten Gresik, Jawa Timur  memiliki banyak keunikan. Bahkan, kawasan yang diusulkan menjadi Situs Ramsar ini sebagai upaya pelestarian burung, mangrove serta memberdayakan UMKM. Dan lagi masyarakat sekitar tampak turut mendukung perwujudan kawasan ini.

Rabu (2/5) jurnalis, akademisi dan aktivis lingkungan mengunjungi KEE Ujung Pangkah ini dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day – WWD). Peringatan ini  digelar Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.

Dalam kesempatan ini, mereka diajak melihat dari dekat segala potensi di kawasan KEE Ujung Pangkah yang sudah ditetapkan Pemprov Jatim melalui SK Gubernur Jawa Timur No: 188/233/KPTS/013/2020. Area ini seluas 1.554,27 H berada di Desa Pangkahwetan, Pangkahkulon dan Banyuurip.

Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, Asep Sugiharta mengatakan KEE Mangrove Ujung Pangkah ini merupakan muara Sungai Bengawan Solo, sehingga lokasi ini kaya dengan sumber daya alam yang penting bagi sejumlah jenis burung air maupun biota laut.

“Potensi keanekaragaman hayati di KEE Ujungpangkah meliputi 17 jenis mangrove dan 72 jenis burung air, baik penetap maupun burung migran seperti Pelikan dari Australia, dan beberapa jenis berstatus Endangered menurut IUCN Red List dan dilindungi Undang-Undang,” jelasnya.

Peringatan Hari Lahan Basah tahun 2021 dilaksanakan melalui beberapa rangkaian kegiatan antara lain penyusunan dokumen usulan KEE Mangrove Ujung Pangkah sebagai Situs Ramsar. Dalam kesempatan ini, juga ada pelepasliaran burung ke habitat alaminya di KEE  sejumlah 25 ekor.

Yaitu, burung Kowak malam kelabu (Nycticorax nycticorax) sebanyak 10 ekor dan Ibis putih kepala hitam sebanyak 15 ekor. “Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lahan basah, meningkatkan peran aktif Pemda dan para pihak dalam bidang konservasi lahan basah,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, M Najikh, mengungkapkan, pemerintah daerah terus mendorong agar KEE Mangrove Ujung Pangkah ini bisa menjadi bagian penting dalam pelestarian hayati yang ada di Indonesia.

“Tentu kami bangga dengan dipilihnya Ujungpangkah sebagai kawasan ekosistem essensial. Semoga bermanfaat. Kami tentu mendukung,” ucap Najikh. Ternyata masyarakat di kawasan KEE ini sudah terampil dalam mengolah segala potensi alam di sekitarnya.

Misalnya, mengolah Mangrove menjadi sirup minuman serta kopi. Ada pula, stik mangrove serta keripik. Kemudian, ada pula masyarakat yang memanfaatkan kerang hijau hasil budidaya nelayan dijadikan kerupuk, petis, serta camilan lainnya yang tentunya bisa meningkatkan daya ekonomi masyarakat.

“Ini berbahan dasar mangrove, buahnya kami jadikan olahan kopi serta sirup yang menyegarkan. Ada pula stik mangrove,” tutur salah satu pelaku UMKM yang berjualan di area Wisata Banyuurip Mangrove Center yang masuk wilayah KEE Mangrove Ujung Pangkah  Gresik.

Selain itu, masyarakat di sekitar KEE ini juga tampak mendukung upaya perwujudan KEE yang diharapkan. Termasuk unsur dari pondok pesantren (Ponpes) yang berada di sekitar kawasan. Seperti di Ponpes Al Muniroh Desa Ujungpangkah Wetan, di pondok ini memiliki kegiatan pengajian 4 kali dalam setiap minggunya.

Menurut Pengasuh Ponpes Al Muniroh KH. Mahmudi Ambar kegiatan pengajian ini lebih banyak diikuti ibu-ibu. Disaat suaminya melaut, para ibu melakukan kegiatan positif sehingga memberi rasa ketenangan saat suami bekerja.

Pemilik Ponpes beserta staf dan guru juga mendidik santri untuk menerapkan hidup bersih dan sehat. “Berbagai cara kami tempuh agar para santri bisa menerapkan pola hidup bersih dan sehat di lingkungan ponpes, baik secara edukatif maupun praktek langsung untuk menggugah kesadaran hidup bersih dan sehat.

Misalnya membuang sampah di tempatnya, piket membersihkan ruang tidur masing-masing, mandi 2 kali sehari, cuci tangan dan masih banyak lagi,” tambah KH Mahmudi Ambar. (sam)