Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Matahari mulai meredup. Dari ujung jalan, alunan gamelan barong, paduan kendang, kempul, kecrek dan gong, terdengar bertalu. Iramanya rancak, menarik siapapun untuk mendekat. Ini adalah gamelan Barong Ider Bumi yang digelar warga Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jumat (14/5) sore.

Di masa pandemi, tradisi tolak balak ini tetap digelar. Bedanya, peserta dibatasi. Hanya 12 orang, khusus para penari dan penabuh gamelan barong. Selama ritual, Satgas Covid mengawal ketat kegiatan. Barong adalah kesenian khas Suku Using, Banyuwangi.

Sedangkan ider bumi artinya berkeliling desa. Tradisi ini diawali dengan mengarak barong dari sudut desa. Lalu, berkeliling ke empat penjuru desa. Selama arak-arakan, gamelan barong terus dibunyikan. Di barisan depan, tokoh adat memegang guci.

Isinya, beras kuning. Selama ritual, beras kuning disebar ke sepanjang jalan. Tradisi ini diyakini bisa mengusir pagebluk atau mara bahaya di desa setempat. Barong Ider Bumi digelar hari kedua Lebaran. Tradisi ini tidak pernah ditinggalkan sekalipun. Bagi warga Desa Kemiren, adat harus dipertahankan. Apapun kondisinya.

“Ini tradisi warisan leluhur. Meski pandemi, kami tetap menggelarnya dengan protokol kesehatan Covid. Namun, tak mengurangi kesakralan ritual Ider Bumi,” kata Suhaimi, tokoh warga Desa Kemiren. Karena pendemi, Barong Ider Bumi tak semeriah biasanya.

Hanya penari dan penabuh yang turun ke jalan. Warga juga tak berkerumun. Mengikuti dari depan rumah masing-masing. Biasanya, mereka ikut berkeliling desa. Menghindari kerumunan, Satgas Covid memantau kegiatan dengan ketat.

Sejumlah petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) menyemprotkan cairan disinfektan ke jalur yang dilalui iring-iringan. “Tahun ini kita lakukan dengan sederhana. Biasanya ratusan orang yang ikut. Tapi saat ini hanya beberapa orang saja yang ikut,” jelas Suhaimi.

Selain berkeliling desa, tradisi Barong Ider Bumi diisi dengan nyekar di makam Buyut Cili, leluhur yang diyakini membuka Desa Kemiren. Makamnya di pinggir desa. Biasanya, tradisi ini akan diakhiri dengan pesta tumpeng pecel pitik di sepanjang jalan. Kali ini ditiadakan, menghindari kerumunan.

Tumpeng pecel pitik terbuat dari ayam kampung panggang. Bumbunya ramuan parutan kelapa muda. Rasanya gurih, dipadu sayuran rebus. Tradisi Ider Bumi di masa Covid ini yang kedua kalinya digelar. Tahun lalu, tradisi serupa juga digelar dengan protokol kesehatan yang ketat.

Berdasarkan sejarah, tradisi Barong Ider Bumi berawal dari pagebluk yang melanda Desa Kemiren, sekitar tahun 1800. Kala itu, sesepuh desa, Buyut Cili mendapatkan wangsit agar menggelar ritual Barong Ider Bumi. Ternyata benar.

Usai ritual, pagebluk menghilang. Sejak itu, tradisi ini terus digelar turun temurun. Sepintas, Barong Kemiren mirip barong di Bali. Bedanya, memiliki dua sayap. Menggelar tradisi di masa pandemi, sejatinya cukup beresiko.

Rawan memicu kluster penularan baru. Tak ingin kecolongan, Satgas Covid Desa Kemiren siaga sejak awal. Sebelum ritual, Satgas mengatur agar tak terjadi kerumunan massa. Lalu, diturunkan tim penyemprot disinfektan di lokasi kegiatan.

“Satgas kita bagi. Ada yang mengawal  Barong Ider Bumi, sisana mengatur agar tak terjadi kerumunan massa. Karena, tradisi ini memang selalu ditunggu warga,” kata Kades Kemiren, M. Arifin. Tak hanya warga, para pemain Barong juga dipantau ketat. Seluruhnya wajib bermasker.

Selama iring-iringan tetap menjaga jarak. Lalu, mencuci tangan sebelum dan akhir kegiatan. “Semua peserta kita pantau terus. Protokol kesehatan wajib diberlakukan, meski itu kegiatan ritual,” jelasnya. Warga berharap, tradisi Barong Ider Bumi bisa meredakan pagebluk Covid yang masih menghantui.

Apalagi, berdampak pada kegiatan ekonomi. Kebetulan, banyak warga setempat yang berprofesi sebagai seniman. Akibat pandemi, pertunjukan sepi. Tak ada undangan manggung. (wir)