Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Larangan mudik Lebaran di masa pandemi berdampak pada aktivitas penerbangan di Bandara Banyuwangi, Jawa Timur. Aktivitas penerbangan komersial terhenti. Meski tak ada penerbangan, seluruh kru bandara tetap tak mudik. Mereka justru siaga di posko terpadu.

Eksekutif General Manager/EGM PT Angkasa Pura II Kantor Cabang Bandara Banyuwangi, Cin Asmoro menjelaskan regulasi non mudik berlaku di bandara mulai 22 April – 24 Mei. Lalu, sejak periode 6-17 Mei, dilakukan penyesuaian penerbangan komersil.

“Selama periode ini, tidak ada layanan penerbangan komersial. Meski begitu, seluruh kru bandara tetap tidak mudik,” kat Cin Asmoro, Rabu (12/5) siang. Menurut dia, meski penerbangan komersil nihil, aktivitas bandara tetap normal.

Sebab, bandara bertugas menunjang penerbangan non komersial alias penerbangan persyaratan khusus. Seperti, militer, penerbangan VIP, kedinasan hingga emergency. “Meski penerbangan non komersial belum ada permohonan, tapi kru tetap siaga. Tidak ada yang mudik,” tegasnya.

Sejak pandemi, lanjut Cin, bandara menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat. Terbaru, Bandara Banyuwangi menggunakan peralayan GeNose untuk calon penumpang. Selama pandemi, penumpang rata-rata hanya 200-300 orang per hari. Tujuan, Jakarta, Surabaya dan Denpasar.

Pihaknya, kini hanya melayani operasi penerbangan sekolah pilot. Namun, tetap dengan standar protokol kesehatan ketat. Meski tak ada penerbangan komersial, di bandara dibuka posko terpadu. Fungsinya, melakukan monitoring pengendalian selama marangan mudik.

“Posko diisi petugas gabungan dari Angkasa Pura, Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Satgas Covid Kabupaten,” pungkasnya. (wir)