Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Penerapan ubah laku menghadapi protokol kesehatan/prokes wajib menyasar berbagai kalangan. Tak hanya masyarakat umum, para siswa ikut dilibatkan. Seperti dilakukan di Provinsi Jawa Timur/Jatim. Menjelang pembelajaran tatap muka, Juli mendatang, setiap sekolah di provinsi ini didorong membentuk Satgas Covid. Tujuannya, penerapan prokes di kawasan sekolah bisa maksimal.

Satgas Covid di sekolah ini juga melibatkan para guru. Sehingga, hasilnya optimal. Ada pengawasan ketat. “Kita minta pihak SMA, SMK dan SLB Se-Jatim wajib  membentuk Tim Satgas Covid-19 di tiap sekolah. Di dalamnya sesuai dengan kearifan lokal, misalnya guru dan murid yang tergabung dalam OSIS,” kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa disela menerima pengurus PGRI Jatim dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Jatim, Minggu (16/5) siang.

Mantan Menteri Sosial ini menambahkan, sebelum pembelajaran tatap muka, Satgas Covid di sekolah harus sudah clear. Sebab, jika tidak ada Satgas, para guru akan kesulitan menertibkan disiplin prokes. Namun, jika Satgas dari siswa sebaya akan lebih mudah mengingatkan siswa lainnya.

Satgas Covid di sekolah lanjut Khofifah akan menertibkan prokes di sekolah masing-masing. Misalnya, mengecek jadwal penyemprotan disinfektan di sekolah dan kelas, stok masker dan lainnya. “Jika ada siswa tak pakai masker, Satgas akan mengingatkan. Lalu, memberikan masker,” jelasnya.

Pihaknya juga mendorong para guru mendapatkan vaksinasi. Sehingga, Juni mendatang mereka sudah sepenuhnya aman karena tervaksin. “Kita terus monitor berapa banyak guru yang sudah selesai divaksin, berapa yang baru divaksin sekali, berapa yang belum sama sekali. Termasuk di kabupaten/kota mana saja harus dimaksimalkan,” pinta Gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Wahid Wahyudi, mengatakan, hingga saat ini 38 bupati/walikota sudah memberikan rekomendasi untuk SMA, SMK  dan SLB yang siap melakukan pembelajaran tatap muka. Di Jatim, lanjut Wahid, para guru SMA, SMK dan SLB yang telah melakukan vaksinasi dua kali sebanyak 38 persen.

“Kami berharap kepada jajaran tenaga pendidik dan guru 100 persen sudah divaksinasi 2 kali. Supaya pendidiknya sehat, psikologis masyarakat bisa menerima pembelajaran tatap muka dengan tenang,” pungkasnya. (bw)