Lamongan, (bisnissurabaya.com) – Sebagai upaya meningkatkan peran dan manfaat Kampung KB bagi masyarakat, perwakilan BKKBN Jawa Timur/Jatim menggalang kerjasama dengan lintas sektor untuk berkolaborasi dan berpartisipasi bersama dalam upaya pembangunan. Salah satunya dengan menggandeng Badan Pusat Statistik Jatim.

Hal ini diungkapkan Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Sukaryo Teguh Santoso, dalam kegiatan Kunjungan dan Pembinaan Kampung KB Deket Agung, Kecamatan Sugio, Lamongan, (3/5).
Saat ini di Jatim telah terbentuk 1.426 Kampung KB, dari jumlah tersebut 75 persen Kampung KB masih masuk klasifikasi Dasar dan Berkembang. “Artinya, Kampung KB saat ini sudah terbentuk, masih membutuhkan pembinaan lebih lanjut, agar menjadi Kampung KB dengan klasifikasi mandiri dan bisa masuk kategori paripurna. Sehingga keberadaan Kampung KB ini bisa dirasakan manfaatnya bagi keluarga dan masyarakat, ” kata Teguh.

Kampung KB didesain sebagai upaya pemberdayaan masyarakat yang mana kegiatannya dikelola berdasarkan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri. “Tujuan akhirnya tentu pembangunan masyarakat itu sendiri, prinsip pengelolaan Kampung KB yang bagus itu seimbang antara inisiatif masyarakat dan juga intervensi dari pemerintah, lebih baik lagi bila inisiatif masyarakat itu lebih banyak, jadi pemerintah hanya bersifat “Ing Madyo Mangun Karso”, hanya menstimulasi dan melakukan pendampingan, selebihnya menjadi tanggungjawab masyarakat,” ujarnya.

Pada 2020, Kampung KB telah dinyatakan sebagai Kampung Keluarga berkualitas. Hal ini dimaksudkan untuk mempertegas bahwa Kampung KB bukan kampung yang hanya mengurusi program KB (dalam arti kontrasepsi saja), melainkan Kampung yang mengurusi terwujudnya Kualitas Kelurga. “Partisipasi berbagai instansi dalam kampung KB sangat penting sehingga pelayanan paripurna dapat dirasakan langsung oleh masyarakat menuju kesejahteraan rakyat, untuk itu dirinya mengajak Dadang Hardiwan Kepala BPS Jatim, untuk bekerja bersama mengembangkan Kampung KB,” ujar Teguh.

“Apalagi tahun 2021 ini Kami sedang menjalankan program Pendataan Keluarga 2021 secara serentak untuk medapatkan data mikro keluarga by name by address, yang mana dapat dijadikan dasar dalam perencanaan pembangunan di daerah, termasuk stunting dimana saat ini Pemerintah telah menetapkan Program Percepatan Penurunan Stunting sebagai salah satu program prioritas, untuk itu dengan kolaborasi dengan BPS ini kedepannya diharapkan para kader dan Pokja Kampung KB mampu memperkuat data dan memaksimalkan pengembangan kampung KB sehingga keberadaannya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala BPS Jatim, Dr. Dadang Hardiwan, S.Si., M.Si mengungkapkan BPS siap memberikan dukungan dan berkolaborasi dalam pengembangan Kampung KB serta Desa Cantik (Cinta Statistik) secara bersama – sama. “Kami siap bekerja sama dalam pengelolaan dan penguatan data di desa tentu kami sangat menyambut dengan tangan terbuka, terkait dengan Kampung KB rasa rasa nya bila tidak ada kata cantik kurang menggigit cantik kami artikan cinta statistic,” kata Dadang.

Menurut dia, kemampuan pengelolaan data itu sangat diperlukan oleh pengelola Kampung KB apalagi bila Kampung tersebut akan dikembangkan menjadi Kawasan Wisata.“Data statistik sangat penting agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat atau aparat desa, apalagi bila desa ini akan ditetapkan sebagai desa wisata ini perlu pemanfaatan data, agar mampu mengembangkan desa ini menjadi lebih baik.

Merespon kebutuhan tersebut, BPS telah mengembangkan Desa Cantik (Cinta Statistik), “Kami menyadari peranan desa sangat dominan dalam pembangunan nasional, untuk mendukung hal tersebut diperkulan SDM yang mampu memaksimalkan dan memanfaatkan data dengan baik, sehingga perencanaan pembangunan di desa dan kelurahan akan lebih tepat sasaran, Desa Cantik ini merespon kebutuhan masyarakat akan pentingnya kebutuhan kemampuan dalam pegelolaan data.

Di tahun 2021 telah dipilih 100 desa dan kelurahan secara nasional dalam rangka pembinaan statistik sektoral pada level wilayah administrasi terkecil yakni desa dan kelurahan. ”Desa cantik secara nasional baru ada 100 Desa. Untuk tingkat Jatim kami menargetkan ada 70 desa cantik, sedangkan di Lamongan kami rencanakan 3 desa. Tahun ini dalam rangka pembelajaran, untuk itu kami belajar bersama BKKBN dalam kaitan nya bagaimana sebuah desa dikembangkan menjadi sebuah Kampung KB, yang menjadi miniatur program pembangunan tingkat desa yang dikelola secara lintas sektoral,” pungkasnya. (bw)