Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Kasus pembuatan dan penjualan senjata api (senpi) ilegal terus dikembangkan jajaran Polresta Banyuwangi. Terbaru, polisi menetapkan lima pelaku sebagai daftar pencarian orang (DPO).

Kelimanya berperan sebagai penjual dan pemakai. Mereka berasal dari luar Banyuwangi.
Penetapan lima orang DPO itu menyusul hasil penyidikan dari keempat tersangka yang ditangkap sebelumnya.

“Hasil penyidikan terbaru, kita tetapkan 5 pelaku sebagai DPO. Tim sudah melakukan pengejaran,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol, Arman Asmara Syarifudin, di Banyuwangi, Selasa (20/5) siang.

Perwira ini menjelaskan, kelima DPO memiliki peran berbeda. Namun, terkait kuat dengan peredaran senpi ilegal tersebut. Sementara ini, para DPO itu belum ada indikasi terkait terorisme, masih krimimal biasa.

Namun, pihaknya masih mendalami terus, tegasnya. Hasil pemeriksaan penyidik, kelima DPO menjadi penadah senpi ilegal yang diproduksi di Banyuwangi. Sebelumnya, satuan Reskrim Polresta Banyuwangi menggerebek pembuat senpi ilegal di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri. Dari lokasi, polisi mengamankan sejumlah barang bukti.

Salah satunya, bahan peledak dan senjata laras panjang caliber 5,6 mm. Dari kasus ini, empat tersangka diamankan. Masing-masing, NM, IPW, AW dan CS. Dari keempatnya, NM berperan sebagai pembuat senpi.

Jenisnya beragam. Mulai pistol hingga senjata serbu. Total 9 senpi sudah diproduksi sejak tahun 2018. Delapan pucuk senpi sudah beredar di beberapa kabupaten di Jatim dan luar Jatim. Polisi menjerat para pelaku dengan UU Darurat No12 tahun 1951. Ancamannya minimal 20 tahun penjara. (wir)