Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Salah satu tradisi ramadhan di kalangan santri, adalah ngaji pasanan. Sebuah kajian kitab kuning, yang diselenggarakan khusus di bulan ramadhan.

Selain untuk menamatkan pembacaan kitab kuning dalam waktu singkat, ngaji pasanan ini juga menjadi ajang mencari keberkahan bagi santri di pondok pesantren/Ponpes.

Di ponpes salah satu tradisi yang khas di bulan ramadhan, adalah penyelenggaraan kajian kitab kuning, yang langsung diasuh oleh pengasuh dan kyai. Selama bulan ramadhan, ngaji kitab ini, disebut, dengan istilah ngaji pasanan.

Ngaji pasanan ini, dilakukan hampir di berbagai ponpes di Indonesia. Mulai dari pesantren kecil, sampai besar. Tidak hanya di pesantren, ngaji pasanan ini, juga kerap diselenggarakan oleh kyai-kyai kampung yang menjadi pemangku mushola atau pun masjid.

Seperti halnya para santri di Surabaya, yang juga mengikuti ngaji kitab pasanan, setelah selesai menunaikan shalat subuh secara berjemaah.
Karena masih pandemi, jumlah para santri yang ikut ngaji pasanan dibatasi.

Selebihnya, mereka bisa mengikuti melalui live streaming di media sosial. “Selain menjaga pisichal distancing, mereka juga diwajibkan menggunakan masker,” kata salah seorang santri, Firman M Ardiansyah.

Kitab yang menjadi kajian selama bulan ramadhan ini, beragam. Mulai jenjang paling rendah, sampai tinggi. Mulai dari kitab fiqih, aqidah, hingga tasawuf, yang menjadi referensi utama bagi pesantren. Selain untuk menamatkan pembacaan kitab kuning, ngaji pasanan ini, menjadi ajang bagi santri untuk ngalap berkah kepada sang kyai.(irwanda/stv)