Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Polisi bersama Biro Investigasi Federal FBI membongkar kejahatan scampage atau penipuan melalui website palsu. Komplotan ini, berhasil mencuri 30.000 database warga Amerika Serikat, melalui manipulasi website dana bansos pemerintah. Database curian ini kemudian oleh tersangka digunakan untuk mencairkan dana pengangguran selama musim pandemi, yang jika ditotal nilainya mencapai 60 juta US dollar.

Polda Jatim merilis pengungkapan komplotan scamer dengan pelaku negara Indonesia. Tersangka, yakni M –Z–M–S–B–P selaku pembuat scampage atau website palsu, serta S – F – R, berperan sebagai penyebar scampage.

Modusnya, komplotan ini membuat skema penipuan dengan sejumlah tahapan. Pertama, pelaku menyebar SMS berisikan pesan pengajuan dana bansos bagi masyarakat terdampak, yang berisikan link atau URL.

Bagi yang tertipu dan membuka pesan tersebut, maka secara otomatis korban tersambung menuju website palsu, dimana saat korban mengisi data pribadi, maka database tersebut seluruhnya dicuri komplotan ini.
Hasil database curian, oleh tersangka kemudian digunakan untuk mencairkan dana bantuan sosial melalui pengajuan resmi ke pemerintah.

Dalam hal ini, bantuan sosial nilainya mencapai dua ribu dollar us untuk satu warga negara AS.
“Sejak 10 bulan beroperasi, komplotan scampage ini berhasil mencuri 30.000 database milik warga negara AS. Per bulan, tersangka S – F – R mendapat keuntungan 30.000 dollar US atau Rp 420 juta.
Sementara, M Z M S B P menerima Rp 60 juta. Keduanya berhasil ditangkap Tim Gabungan Polda Jatim dan FBI, disebuah hotel di Kota Surabaya,” kata Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta, di Surabaya Kamis (15/4).

Saat ini, Tim Gabungan Cyber Polda Jatim bersama FBI, tengah memburu satu DPO warga negara India berinisial S. DPO ini, diketahui memiliki peran penting dalam komplotan scamer ini.

Dari tangan kedua tersangka, polisi mengamankan sejumlah barang bukti perangkat elektronik hand phone dan laptop. Keduanya, dijerat dengan pasal 35 UU no 19, Tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman hukuman 12 tahun kurungan penjara, atau denda Rp 12 miliar. (feri/stv)