Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Puluhan sopir kontainer dan pegawai pergudangan Kalianak nomor 55 Surabaya, unjuk rasa menuntut adanya dugaan pungutan liar/Pungli tarif parkir di area komplek Pergudangan Kalianak 55 Surabaya. Bahkan, ketegangan sempat terjadi antaran demonstran dan pengelola parkir di area tersebut.

Demonstran, menuntut aktivitas pungutan parkir dihentikan, karena tak sesuai dengan peruntukannya. Seperti inilah, aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan pegawai gudang dan sopir kontainer di kawasan komplek Pergudangan Kalianak 55 Surabaya. Mereka menuntut adanya penghentian pungutan tarif parkir yang tidak sesuai dengan peruntukan. Para demonstran memprotes pengelola parkir bernama Soeparmanto.

Sementara itu, Khoirul Huda, Koordinator Lapangan Aksi, mengatakan, pihaknya memprotes pihak pengelola parkir bernama Soeparmanto, agar menghentikan aktivitas pungutan tarif parkir di tengah jalan komplek Pergudangan Kalianak 55 Surabaya, lantaran dianggap meresahkan.

Demonstran menganggap, pengelola parkir melakukan tindakan sewenang-wenang. Padahal, berdasarkan keputusan dari Dishub Kota Surabaya, pengelola parkir bernama Soeparmanto, hanya mendapat izin mengelola parkir di lahan 3.000 meter persegi milik PT Karya Kreasi Megah. Namun faktanya, aktivitas pungutan itu dilakukan bagi semua kendaraan yang masuk ke area Pergudangan Kalianak 55.

Para demonstran juga sempat mendatangi lokasi yang biasa dilakukan tempat memunguti tarif parkir bagi kendaraan yang lewat. Sempat terjadi ketegangan antara pihak demonstran dan pengelola parkir.

Sementara itu, salah satu sopir truk yang resah dengan aktivitas pungutan itu adalah Deni. Ia keberatan tiap masuk Wilayah Kalianak 55 dikenakan tarif parkir Rp 10.000. Padahal, dalam sehari, ia bisa masuk ke komplek tersebut lebih dari lima kali. Selain itu, penarikan tarif tersebut kerap dilakukan secara paksa.

Peserta aksi juga menuntut Pemkot Surabaya untuk mencabut izin yang sudah diberikan ke pihak pengelola parkir Soeparmanto, karena disalahgunakan. Izin yang diberikan untuk dilakukan di area PT Karya Kreasi Megah, malah dilakukan di tengah jalan komplek pergudangan. (farid/stv)