Gresik, (bisnissurabaya.com) – “Untuk mengurangi dampak plastic sekali pakai pada kerusakan lingkungan dan ancaman pangan laut, dibutuhkan aksi anak muda,” kata Aehsnina Azzahra Aqilani, salah satu penggiat kampanye #stopmakanplastik di Gresik Jumat (9/4). Co-Captain River Warrior Indonesia ini ikut terlibat dalam aksi mengajak masyarakat untuk puasa plastik Sekali Pakai (tas kresek, sedotan, sachet, botol air kemasan dan styrofoam).

Indonesia, menurut dia, sedang darurat sampah plastik sekali pakai sebagai penyumbang polutan plastik ke lautan kedua terbesar setelah China. Saat ini, Indonesia mengalami banjir sampah plastic, setiap 3 menit sampah plastic seukuran Dumptruck dibuang di laut. 52 persen sampah di laut Jawa adalah sampah jenis plastic, 42 persen jenis sampah terapung di Bengawan Solo dan Brantas adalah Sampah plastik.

Dalam pengelolaan sampah, Pemerintah hanya mampu melayani 44 persen penduduk Sehingga sebagian besar sampah berakhir di perairan dan lahan terbuka. Sampah plastik ini kemudian mengalami fragmentasi menjadi serpihan berukuran kecil yang disebut mikroplastik.

Selain mengkontaminasi air dan sedimen, seafood Pesisir Utara (udang, ikan, kerang, teripang dan kepiting) telah tercemar mikroplastik.

“Kami juga akan mendorong Pemkab Malang, Gresik, Sidoarjo, Jombang, Mojokerto dan Pemkot Surabaya untuk Segera membuat perda larangan plastik sekali pakai,” tambah Thara Bening Sandrina. Captain River Warrior Indonesia menjelaskan, bahwa gerakan #stopmakanplastik juga mendorong pemkab menyediakan sarana TPS 3R pada tiap desa, meningkatkan layanan pengolahan sampah diatas 40 persen dan mendesak produsen ikut kelola sampah residu jenis sachet.

“Di Indonesia telah ada 42 pemerintah daerah yang memiliki Perda Pembatasan Pemakaian Plastik sekali pakai.

Seperti di Provinsi Bali, DKI Jakarta, Balikpapan dan Banjarmasin,” ungkap Azis manager hukum Gerakan #stopmakanplastik. Coordinator Brigade Evakuasi Popok ini menyayangkan, tidak ada satupun kota atau kabupaten di Jawa Timur/Jatim yang memiliki Perda Pembatasan Pemakaian Plastik sekali pakai.

Padahal, kata dia, terdapat Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang menjadi bagian dari 10 sungai contributor polusi plastic ke lautan. “Dalam aksi ini kami akan membentangkan spanduk #stopmakanplastik dan kartun tentang proses terbentuknya mikroplastik dan gambar yang menunjukkan bahwa mikroplastik yang ada di perairan akan masuk dalam tubuh ikan dan selanjutnya masuk kedalam tubuh manusia,” ujar Adelia Nur Fitria.

Coordinator Komunitas Tolak Plastik Sekali Pakai SMK N 1 Driyorejo, ini menjelaskan, bahwa selain gambar poster juga ada poster permintaan kepada Bupati Gresik untuk menyediakan sarana TPS 3R di setiap desa di Kabupaten Gresik. Mengingat saat ini banyak ditemukan sampah plastik yang dibuang sembarangan di sungai dan lahan terbuka.

“Tujuan dari aksi di depan kantor Bupati Gresik untuk mengajak masyarakat menolak pemakaian plastik sekali pakai yang sulit didaur ulang, ” ungkap Sandra, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang bertempat tinggal di Gresik. Sandra, mengungkapkan, bahwa aksi ini menitikberatkan pada upaya edukasi kepada masyarakat dan dorongan kepada Pemkab Gresik untuk lebih memprioritaskan penanganan sampah plastik.

Aksi #stopmakanplastik akan digelar di 10 Kota sepanjang daerah aliran Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Diantaranya, di Kantor Bupati Gresik (8/4), di kantor Bupati Sidoarjo (9/4), Alun-alun Kota Mojokerto (10/4), Alun2 Malang (11/4). Dilanjutkan ke Lamongan, Tuban,
Jombang, Kediri, Nganjuk, Blitar. (bw)