Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Maraknya aksi terorisme di Indonesia membuat jajaran DPD Golkar Kabupaten Banyuwangi ikut siaga. Tak ingin terpapar radikalisme, partai berlambang beringin ini menggembleng kadernya anti terorisme di kantor DPD setempat, Senin (5/4) siang.

Para kader yang digembleng berasal dari pengurus kecamatan hingga kabupaten. Karena masa pandemi, kegiatan yang dikemas dengan seminar itu juga digelar secara daring.

Ketua DPD Golkar Banyuwangi, Ruliono, mengatakan, radikalisme cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Karena itu, pihaknya memprakarsai seminar anti radikalisme bagi para kader.

“Kami mulai dari para kader untuk waspada radikalisme. Harapannya, para kader menjaga keluarga dalam menangkal radikalisme,” kata Wakil Ketua DPRD Banyuwangi usai membuka seminar.

Pihaknya berharap, kader Golkar menjadi ujung tombak dalam mengantisipasi terorisme. “Diawali dari keluarga, para kader Golkar bisa menjadi contoh dalam melawan radikalisme,” tegasnya.

Pihaknya prihatin banyaknya anak muda yang terpapar radikalisme dan intoleransi yang berujung pada aksi terorisme. Kegiatan ini juga bagian idiologi Golkar, yaitu karya dan kekaryaan.

“Kami berharap semua organisasi di Banyuwangi bisa bergandeng tangan dalam memerangi radikalisme dan intoleransi,” pungkasnya.
Ditambahkan, setelah seminar, para kader diharapkan menularkan pengetahuan yang didapat.

Mulai dari keluarga dan lingkungan sekitar. Sehingga, paham radikalisme bisa diantisipasi sejak dini. “Ini bagian dari bela bangsa, sekaligus tindak lanjut dari Rakerda dan Rapimda DPD Golkar Jatim,” tegas politisi asa Glenmore itu.

Karena itu, para kader diwajibkan mengikuti seminar ini. Jika absen, diberikan teguran. Sekretaris DPD Golkar Banyuwangi Ali Firdaus mengisahkan paham radikalisme sangat gencar mencari pengikut.

Metodenya memburu generasi milenial, lalu dicuci otak. “Cuci otak mereka sangat luar biasa. Mereka merekrut anggota dengan berjaringan. Ini yang harus diwaspadai para orang tua,” tegas pria yang didapuk sebagai mata sumber ini.

Menurutnya, peran orang tua menjadi ujung tombak dalam menangkal radikalisme sejak dini. “Orang tua harus peka dengan anak, jadikan anak teman dan saudara yang selalu diajak bicara,” pungkasnya. (wir)