Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Memasuki musim panen raya, Bulog Banyuwangi mulai gencar melakukan pembelian gabah milik petani. Hanya hitungan hari, sebanyak 700 gabah dan 1.000 lebih beras berhasil digudangkan.

Harga pokok penjualan/HPP dipatok Rp 2.400 per kilogram. Meski dibayangi stok beras impor asal Vietnam, Bulog Banyuwangi mantargetkan bisa menyerap beras hingga 120.000 ton, sesuai kapasitas gudang.

Target penyerapan beras tidak kita patok, yang jelas sebanyak-banyaknya. Ini untuk melindungi hasil panen petani, kata Pimpinan Cabang Bulog Banyuwangi Jasri Pakke di gudang Bulog Ketapang, Rabu (24/3) sore.

Menurut dia, Bulog hadir menjadi penyeimbang harga gabah dan beras di pasaran ketika panen raya. Sebab, biasanya, saat panen raya, harga gabah cenderung anjlok. Bahkan, di bawah HPP.

Karena itu, pemerintah menetapkan HPP untuk membeli gabah petani. Namun, tetap mengikuti standar gabah yang baku. Penyerapan gabah akan terus berlanjut hingga masa panen selesai.

Biasanya, setelah panen, harga gabah cenderung naik. Pejabat ini menjelaskan, gabah kering giling di gudang Bulog harganya akan lebih mahal, dipatok Rp 5.300 per kilogram. Sedangkan beras kualitas medium dipatok Rp 8.300 per kilogram.

“Penyerapan beras ke Bulog ini sebagai stok pangan nasional yang ditempatkan di Banyuwangi. Kami memiliki 5 gudang, kapasitasnya 108.000 120.000 ton. Beras yang kami serap tidak hanya untuk Banyuwangi, namun ke wilayah Indonesia Timur. Seperti, NTT dan Papua, bahkan Aceh,” jelasnya.

Selama ini, lanjut dia, beras Bulog juga digelontorkan dalam bentuk program operasi pasar dan bantuan sosial. “Ini kita gelar rutin. Tujuannya, mengimbangi pasar agar harga tetap terkontrol,” imbuh Jusri.

Selain beras lokal, di gudangnya juga tersimpan beras impor asal Vietnam. Beras ini kiriman tahun 2018. Total sebanyak 3.000 ton. Kondisinya masih layak konsumsi. Pihaknya menunggu perintah dari pusat untuk distribusi beras impor tersebut. (wir)