Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pemberdayaan petani di desa menjadi tanggung jawab semua pihak. Karena itu, untuk meningkatkan kemampuan petani diperlukan campur tangan pemerintah dalam hal ini Badan Usaha Milik Negara/BUMN. Salah satunya di Desa Bukit Dermo Selopamioro, Imogiri Bantul Yogyakarta mendapat sentuhan dari PT Kliring Berjangka Indonesia/KBI yang bekerjasama dengan Departemen Teknik & Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada/UGM.

‘’Terus terang, petani di desa kami sangat terbantu dengan bimbingan bapak/ibu dosen dari UGM untuk meningkatkan kwalitas produk tanaman. Dengan demikian, ekonomi masyarakat juga akan terkerek,’’ kata Kepala Kelurahan Bukit Dermo Selopamioro, Imogiri Bantul Yogyakarta, Drs Sugeng, disela Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani dalam pengembangan UMKM Pangan Lokal untuk mitigasi pasca covid-19, di Yogyakarta Rabu (17/3) kemarin.

Menurut dia, berkat bimbingan pihak UGM yang bekerjasama dengan KBI kesadaran petani akan pentingnya kwalitas pengembangan usaha tani terus meningkat. Petani di Desa Bukit Dermo Selopamioro, ini hanya mengandalkan pertanian khususnya tanaman singkong, duren, alpukat, klengkeng, sirsat dan rambutan serta industri lokal.

Hanya saja, kata Sugeng, pihaknya tidak bisa menyebutkan berapa peningkatan kwalitas setelah ada sentuhan para pembimbing dari Departemen Teknik & Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM yang bekerjasama dengan PT KBI. ‘’Yang jelas, telah terjadi jumlah kelompok tani di desa ini,’’ ujarnya.

Direktur Utama/Dirut PT Kliring Berjangka Indonesia/KBI, Fajar Wibhiyadi, mengatakan, KBI telah mengadopsi konsep Creating Shared Value/CSV ini dalam kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dilakukan.

Dengan konsep ini, menurut dia, KBI mengedepankan aspek tumbuh bersama dengan masyarakat yang diberikan bantuan. Dalam hal kemanfaatan, dengan konsep CSV tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tapi juga memberikan manfaat bagi sustainibility bisnis korporasi KBI.

Konsep CSV, kata Fajar, CSV merupakan pengembangan dari konsep tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility), yang konsepnya didasari pada ide adanya hubungan interdependen antara bisnis dan kesejahteraan sosial.

CSV menekankan adanya peluang untuk membangun keunggulan kompetitif dengan cara memasukan masalah sosial sebagai bahan pertimbangan utama dalam merancang strategi perusahaan. Terkait kegiatan dengan konsep CSV, saat ini terdapat dua program yang telah dijalankan KBI, yaitu Program Integrated Farming System di Selopamioro Yogyakarta, serta Program Kemitraan di Sistem Resi Gudang/SRG.

Untuk Program Kemitraan di SRG, sampai dengan saat ini telah dilaksanakan di tiga wilayah. Yaitu di Takalar dan Bantaeng Sulawesi Selatan untuk komoditas Rumput Laut, Lampung untuk komoditas Beras, serta Blitar dan Tuban Jawa Timur/Jatim untuk komoditas Gabah dan Beras.

Program Integrated Farming System di Selopamioro Yogyakarta ini dilakukan KBI bekerjasama dengan Dept Teknik Pertanian & Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Program ini merupakan Pengembangan usaha peternakan berbasis ramah lingkungan dan sumber energy terbarukan, yang merupakan Integrasi agribisnis peternakan dengan pengembangan pangan lokal dan potensi wisata daerah.

‘’Dengan program ini, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan peternak dalam pengelolaan usaha agribisnis peternakan,’’ kata Fajar. Ia menambahkan, program kemitraan di SRG yang dilakukan KBI ini, salah satunya yaitu pinjaman dengan pola Jaminan Resi Gudang.

Sistem pembiayaan perdagangan sangat diperlukan bagi dunia usaha untuk menjamin kelancaran usahanya terutama bagi usaha kecil dan menengah, termasuk petani yang umumnya menghadapi masalah pembiayaan karena keterbatasan akses dan jaminan kredit.

SRG dapat memfasilitasi pemberian kredit bagi dunia usaha dengan agunan inventori atau barang yang disimpan di gudang. Program Kemitraan dengan pola Jaminan Resi Gudang yang dilakukan KBI yaitu Pinjaman dengan Jaminan Resi Gudang, diberikan kepada mitra binaan baik itu perorangan, kelompok tani/Poktan, gabungan kelompok tani/Gapoktan, atau koperasi.

Lama pinjaman berdasarkan masa berlaku Resi Gudang yang dijaminkan agar para petani dapat terhindar dari rentenir dan tengkulak. Dengan program kemitraan SRG ini, tentunya akan memberikan manfaat kepada para petani dan pemilik komoditas, seperti Mengurangi ketergantungan petani kepada tengkulak karena tersedia lembaga Pembiayaan yang dapat memberikan financing dengan jaminan Resi Gudang.

Selain itu, akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani karena dapat melakukan tunda jual dan menghindari ‘keterpaksaan’ petani menjual komoditas dengan harga rendah, serta memberikan keleluasaan petani untuk merencanakan proses tanam hingga panen karena akan mempunyai modal yang cukup untuk membiayai keperluan produksi.

Dari sisi korporasi KBI, konsep CSV dalam kemitraan SRG akan memberikan beberapa manfaat, yaitu Peningkatan transaksi Resi Gudang yang diregistrasikan di Isware yang merupakan core business PT KBI (Persero), Meningkatkan kepercayaan bagi lembaga pembiayaan dalam menggunakan dokumen RG sebagai instrument pembiayaan, Menjadi media kerjasama dan sinergi dengan BUMN lain (TJSL) dalam penyaluran pembiayaan dengan menjalankan kemitraan SRG, dan PT KBI (Persero) dapat mengetahui dan memantau akan kebutuhan penerbitan SRG dan pembiayaan dengan RG secara langsung (Data penerbitan dan pembiayaan SRG.

Menurut Fajar, program kemitraan ini tentunya juga akan memberikan manfaat dalam lingkup ekonomi nasional. Yaitu, adanya database produksi dan konsumsi komoditas di Indonesia sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan pemerintah dibidang pangan dan perdagangan.

Selain itu, adanya program kemitraan ini akan mempertahankan stabilitas harga komoditas sehingga sesuai dengan daya beli masyarakat, serta tentunya Meningkatkan dan mempertahankan persediaan komoditas baik untuk kepentingan konsumsi dalam negeri maupun untuk di ekspor.

Data KBI menyebutkan, sepanjang 2015 – 2020, total pembiayaan dalam program kemitraan SRG mencapai Rp 30,9 miliar. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi GRC serta Ketua Perkumpulan Profesional Governansi Indonesia, Mas Ahmad Daniri,  mengatakan, program-program CSR dari korporasi perlu dikembangkan dengan pendekatan CSV.

‘’Hal ini dikarenakan, dari sudut pemangku kepentingan lebih mudah untuk menciptakan manfaat asalkan kita dapat memahami kepentingan dan kebutuhan mereka. Biasanya yang sering lebih dulu mencuat adalah, keinginan ketimbang kebutuhan,’’ katanya. Itu sebabnya di perlukan pemetaan kepentingan stakeholder secara gamblang, termasuk kebutuhan masyarakat sekitar perusahaan.

Selain itu, tidak mudah mengidentifikasi manfaat untuk perusahaan, apalagi jika kurang selaras dengan strategi bisnis. Semakin jauh dari strategi perusahaan, program CSR semakin dirasakan sebagai beban perusahaan. Sebaliknya semakin dekat dengan strategi perusahaan, semakin mudah untuk membuat program CSR yang saling memberi manfaat. (bw)