Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Untuk bisa menjadi pemimpin yang baik,  seorang pemimpin harus bisa menjadi motivator di organisasinya, bisa memberikan arahan dan bimbingan, serta menyemangati anak buahnya agar bisa mendongkrak kinerja. Kepala Badan Litbang Kementrian Dalam Negeri RI, Dr Drs Agus Fatoni MSi, saat paparan terkait pelayanan  publik, di Surabaya, Sabtu (13/3) mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penghambat bagi sebuah organisasi agar tetap solid, diantaranya ketidak profesionalan SDM-nya.

“Kita mengakui dan mengatakan banyak yang tidak menguasai bidang tugasnya masing-masing. Konsep surat saja susah, apalagi yang paham tentang administrasi keuangan, makanya saya sampaikan kepada bapak-ibu, tidak akan pernah bisa menjadi bendahara, kalau tidak punya pengalaman membuat administrasi keuangan,” katanya.
Menurut dia, hambatan selanjutnya adalah rendahnya kreativitas dan inovasi, jangankan untuk kreatif dan inovatif, motivasi saja rendah, berangkat ke kantor saja ogah-ogahan.

“Saat ini segalanya serba pakai komputer, tapi masih banyak yang nggak tahu, apalagi buat paparan yang bagus, membuat nota dinas yang isinya bagus. Bisa kita bayangkan organisasi kita seperti itu, kira-kira kalau kita mau mengakui secara jujur,” tambahnya.

Menurut dia, untuk menciptakan organisasi yang solid dibutuhkan kerja tim yang kompak. Menjaga kekompakan tim itu tidak harus semuanya jadi pemimpin, ada yang jadi anak buah, berbeda-beda peran, berbeda-beda tapi yang tahu posisi masing-masing. “Bekerja tapi dia mau menonjol sendiri, dianggap hebat sendiri, ingin berprestasi sendiri, dia nggak mau bekerja sama, merasa benar sendiri, ada masukan dari yang lain tidak mau, belum lagi persaingan jabatan bahkan ada juga yang diciptakan untuk berkonflik,” ujarnya.

Dikatakannya, pemimpin terbaik harus bisa menjadi contoh bagi bawahannya. Punya skill atau kemampuan memecahkan masalah kompleks, memiliki kecerdasan intelektual, berpikir kritis, menguasai manajemen manusia, punya kemampuan berkoordinasi, negosiasi dan koneksitas serta orientasi pada pelayanan. “Namun menjadi pemimpin terbaik pun tidak cukup, dia harus menjadi orang baik juga yang mempunyai kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan spritual dan moral,” kata Agus Fatoni. (bw)