Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Polisi Banyuwangi mulai menemukan titik terang terkait asal usul sindikat pengedar dolar AS senilai Rp 2,8 triliun. Ternyata, para pelaku adalah para kolektor benda kuno. Ini dibuktikan dengan ditemukannya barang bukti sejumlah lembaran uang kuno. Seperti, tiga lembar uang kertas palsu pecahan Rp 1000 warna biru yang dibuat tahun 1964. Ada juga, pecahan rupiah Rp 1000 palsu warna merah buatan tahun 1964. Polisi juga mendapati lembaran dollar kuno palsu pecahan 100.000 buatan tahun 1934. Sepintas, seluruh barang kuno itu mirip dengan aslinya. Kondisi juga masih baru, dibungkus kotak kayu kuno. Para pelaku ini memang dari kalangan kolektor barang antik. “Sepintas, kondisi dolar AS itu memang mirip,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudin, didampingi Kasat Reskrim AKP Mustijat Priambodo, di Banyuwangi Jumat (26/2) sore.

Ia menjelasjan, hasil koordinasi dengan Konjen AS di Surabaya, pecahan dolar palsu itu dinyatakan mendekati mirip dengan aslinya. “Jadi, oleh petugas Konjen AS sudah dinyatakan palsu,” jelasnya. Selain lembaran Dolar palsu, diamankan juga pecahan sejumlah mata uang dari beberapa negara.

Seperti, Ringgit Brunei, mata uang Brasil, Yuan China dan dolar Kanada. Seluruhnya dinyatakan palsu. “Yang dolar AS sudah pasti palsu. Mata uang lainnya diakui para pelaku juga palsu,” imbuh Kapolresta. Kini, penyidik masih memburu pemasok dolar palsu tersebut.

Jaringan pengedar pecahan dolar AS palsu berhasil dibongkar polisi Banyuwangi. Tanggung-tanggung, nilainya mencapai Rp 2,8 triliun lebih. Dari kasus ini, polisi mengamankan 10 orang tersangka. Dua pelaku masih dinyatakan buron. Para pelaku akan dijerat dengan 245 KUHP tentan Tindak Pidana Menyimpan atau Memasukkan Mata Uang dan Uang Kertas Palsu ke Indonesia. Ancamannya, 15 tahun penjara. (wir)