Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Sepintas, desa di selatan Banyuwangi, Jawa Timur/Jatim ini mirip desa-desa lainnya. Dikelilingi persawahan. Udaranya sejuk. Lokasinya di pedalaman, jauh dari jalan protokol kecamatan. Namun, ketika didekati, ada yang beda di desa ini. Hampir setiap rumah warganya terparkir mobil.

Yaaa…., inilah Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, sekitar 35 kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Sejak adanya listrik naga dari PLN, warga desa ini yang mayoritas petani berubah menjadi jutawan. Dengan aliran listrik, buah naga bisa berbuah sepanjang tahun.

Listrik naga adalah program listrik ke pertanian buah naga yang digulirkan PLN Banyuwangi. Program ini digalakkan di Dusun Tambakrejo, Desa Bulurejo mulai 2013. Munculnya aliran listrik ke pertanian naga ini terbilang unik. Tanpa penelitian sebelumnya. Petani hanya coba-coba.

“Awalnya, kami hanya mengamati apakah bisa buah naga berbunga di luar musim. Lalu, kami mencoba menggunakan lampu dop satu biji. Ternyata, buah naga mau berbunga di luar musim,” kata Edi Purwoko, tokoh petani buah naga Banyuwangi saat ditemui bisnissurabaya.com, belum lama ini.

Ketua Paguyuban Petani Buah Naga Banyuwangi (Panaba) ini mengisahkan, pertama kali dirinya yang melakukan uji coba listrik naga. Kala itu, pakai mesin diesel. “Karena, khawatir jika pakai listrik PLN akan dilarang,” kenangnya.

Menggunakan tenaga diesel, ternyata pemborosan. Dengan 100 biji lampu untuk seperempat hektar lahan, biayanya Rp 50.000 per malam. Cukup mahal bagi petani. Kendala lainnya, mesin diesel cepat rusak. Sehingga, biaya perawatan bertambah. Akhirnya, disiasati menggunakan tenaga listrik PLN dari jaringan rumah. Ternyata lebih irit.

“Awalnya, takut ketahuan PLN karena listrik rumah dipakai untuk kebun,” kata pria yang akrab dipanggil Edi Lusi ini.
Gayung bersambut, ternyata PLN memberikan lampu hijau. Itu setelah pihaknya berdiskusi panjang bersama perusahaan plat merah tersebut.

Pertama kali listrik dialirkan langsung ke kebun naga tahun 2015. Pakai meteran sendiri di kebun, lanjut Edi, yang juga Kepala Dusun Tambakrejo tersebut. Biaya pemasangan listrik ke kebun naga relatif terjangkau. Rata-rata, per seperempat hektar membutuhkan biaya Rp 20 juta hingga Rp 25 juta, tergantung jenis lampu yang dipakai.

Jumlah lampu minimal 300 biji, kapasitas listrik 5.500 volt amper (VA). Dari daya ini, petani mengeluarkan biaya listrik sekitar Rp 700.000 per bulan. Lampu hanya dihidupkan selama 20 hari, durasi 4 – 6 jam per hari. Mulai pukul 20.00 WIB hingga 02.00 WIB. Jika terlalu lama menggunakan lampu, kata Edi, justru mubazir. Sebab, tak efektif. Ini berdasarkan pengalaman dan uji coba.

Akhirnya, kita simpulkan, penyinaran lampu hanya 4 – 6 jam dan 20 hari, tegas pria 41 tahun tersebut. Menurutnya, waktu 20 hari adalah masa pertumbuhan bakal bunga hingga merekah. Setelah itu, tak perlu sinar lampu. Dengan teknologi lampu, pohon naga bisa berbuah di luar musim.

Dalam kondisi normal, buah naga berbuah periode Oktober hingga Maret. Jika disinari lampu, buah bisa muncul di luar musim. Bahkan, hasil panen lebih banyak. Kondisi normal, panen naga hanya sekitar 40 ton per hektar. Dengan lampu, hasil panen bisa melejit hingga dua kali lipat.

“Yang menguntungkan, harga di luar musim sangat mahal, bisa tembus Rp 30.000 per kilogram. Itu diawal pakai lampu, sekarang relatif turun sekitar Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per kilogram,” jelasnya.
Kenapa pakai lampu panen buah naga lebih banyak ? Menurut Edi, dengan lampu, bakal bunga bisa tumbuh lebih lebat.

Kualitasnya juga bagus. Sehingga, potensi menjadi buah cukup besar. Berbeda dengan bunga alami tanpa lampu yang relatif sedikit. Saat panen raya normal, harga buah naga kerap anjlok. Pernah di bawah Rp 3000 per kilogram. Petani dipastikan merugi. Inovasi listrik naga ini menjadi jawaban kegelisahan petani. Sebab, bisa panen di luar musim. Biayanya juga tak memberatkan. Jika harga bagus, sekali panen, modal pemasangan listrik langsung kembali.

Dengan tenaga listrik, sekali musim panen, petani bisa meraup pendapatan hingga Rp 150 juta per seperempat hektar. Kondisi ini membuat listrik naga dengan cepat booming. Petani naga ramai-ramai memasang listrik ke sawah. “Melihat hasil yang menggiurkan, petani ramai-ramai pasang listrik ke sawah. Rata-rata, petani memiliki lahan minimal seperempat hektar. Ada juga yang lebih,” katanya.

Tak heran jika ekonomi petani naga melejit sejak masuknya listrik naga. Edi mencontohkan kondisi kampungnya. Hampir seluruhnya beralih ke petani naga. Sebelumnya, petani padi dan jagung. Karena hasilnya menggiurkan, banyak petani banting stir ke buah naga. Imbasnya, ekonomi melejit. Rata-rata, petani bisa memiliki mobil dari hasil bertani naga. Tak heran jika hampir setiap rumah di Dusun Tambakrejo ini terparkir mobil. Warga setempat hampir seluruhnya menggantungkan hidup dari bertani buah naga. Tak hanya mobil, pendidikan anak-anak petani juga meningkat. Minimal SMA hingga sarjana. Kondisi ini berbeda jauh dengan beberapa tahun silam sebelum masuknya listrik buah naga. Dahulu, penghasilan petani pas-pasan. Belum lagi harga komoditi yang selalu anjlok saat panen raya. Secara ekonomi, memang dampaknya bisa dirasakan masyarakat dengan hadirnya listrik naga ini. “Petani bisa panen sepanjang tahun, otomatis pendapatannya meningkat. Banyak yang jadi jutawan,” jelasnya.

Edi mencontohkan, dirinya. Sejak bergelut di pertanian naga berteknologi listrik, perekonomiannya melejit. Karena itu, dia memilih berhenti menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Sebelum terjun ke petani naga, Edi bertahun-tahun mengais rezeki ke beberapa negara. Hasilnya dialihkan untuk bertani naga. Hasil bertani naga ini jauh lebih besar dibandingkan menjadi TKI, kata mantan TKI di Taiwan ini.

Keuntungan ekonomi yang menjanjikan, membuat petani lainnya tergiur. Hanya hitungan bulan, banyak petani di Banyuwangi Selatan beralih ke buah naga. Mereka juga ikut-ikutan menggunakan tenaga listrik. Hingga tahun 2021, kata Edi, petani naga di Banyuwangi sekitar 150 orang. Luas lahannya mencapai 500 hektar. Ini yang tercatat sebagai anggota aktif di Panaba. Dari jumlah ini, 75 persen menggunakan teknologi listrik, jelasnya. Para petani ini tersebar di sejumlah kecamatan di Banyuwangi selatan. Seperti, Kecamatan Purwoharjo, Siliragung, Pesanggaran dan Tegaldlimo.

Selain menjual buah, para petani naga mendapatkan penghasilan tambahan dari inovasi wisata agro. Menariknya, wisata agro ini disuaki wisatawan karena petik naga di malam hari. Di bawah sinaran lampu, wisatawan bisa menikmati petik naga. Pengalaman yang tidak bisa didapatkan di daerah lain. Hanya di Banyuwangi. Fenomena ini yang membuat wisatawan berbondong-bondong ke Banyuwangi. Inovasi ini hasilnya tak kalah menggiurkan.

“Desa kami sudah menjadi jujugan wisatawan domestik, termasuk studi banding tentang pertanian naga. Ini jadi penghasilan tambahan petani,” kata Edi. Inovasi listrik naga ini menjadi satu-satunya di Indonesia yang sedang tren.

Karena itu, menarik minat banyak daerah untuk studi banding. Petani juga mulai mengirim benih batang naga ke berbagai daerah di Jatim Edi, optimis, pertanian buah naga dengan tenaga listrik tetap menjanjikan. Namun, dia menyarankan petani tak ikut-ikutan. Tapi, tetap memperhatikan potensi pasar. Bertani buah naga bukan tanpa kendala. Jika terserang cacar, potensi gagal panen sangat tinggi, tegasnya. Karena itu, dia menyarankan petani naga bisa aktif berdiskusi sesame petani naga.

Buah naga Banyuwangi banyak dikirim ke kota-kota besar di Indonesia. Ini yang membuat potensi komoditi ini tetap menjanjikan. Buah dari spesies kaktus ini mulai masuk Banyuwangi sekitar tahun 2010. Kesuksesan bertani naga ini didukung kreativitas petani yang sebelumnya menanam berbagai hortikultura. Lahan pertanian Banyuwangi juga cocok untuk komoditi buah naga.

Penyumbang Konsumsi Listrik Tertinggi di Jatim Bertani buah naga dengan teknologi lampu di Banyuwangi meningkatkan produksi kinerja PLN di Jawa Timur (Jatim). Bahkan, di masa pandemi, konsumsi listrik dari sektor pertanian ini membukukan pendapatan yang fantastis. Prestasi ini membuat PT PLN (Persero) menjadikan Banyuwangi sebagai penyumbang konsumsi listrik terbesar di Jatim dari sektor industri, periode Januari September 2020. PLN memberikan penghargaan kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, awal September 2020. Pejabat ini dinilai mampu mengembangkan ekonomi lokal dan mendorong kinerja sektor listrik. Pertumbuhan konsumsi listrik di Banyuwangi mencapai 9 persen. Angka ini jauh di atas pertumbuhan rata-rata di Jatim yang hanya 2,6 persen. Konsumsi tertinggi kedua di Jatim ada pada kelompok industri. Ini cukup mencengangkan. Industri di Banyuwangi tumbuh 8 persen, kata General Manager PLN Jawa Timur, Nyoman S Astawa disela bertemu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Rabu (4/11) lalu.

Menurutnya, berbagai kebijakan Bupati Anas mampu mendorong pertumbuhan listrik di daerahnya. Salah satunya, electrifying agriculture melalui dukungan dan kemudahan melistriki areal kebun buah naga. Hingga tahun 2020, total kebun buah naga berlistrik adalah sebesar 1.200 hektar, milik 4.800 petani buah naga. Selain listrik naga, Banyuwangi mendapatkan penghargaan integrasi sektor wisata dan pertanian berbasis pemanfaatan listrik. Inovasi ini dalam bentuk wisata agro buah naga di malam hari. (wir)