Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Masa pandemi menjadi hambatan pembelajaran di sekolah, khususnya praktik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun, SMKN 2 Tegalsari Mabadiul Ihsan, Banyuwangi memiliki ide kreatif mengatasi kendala pembelajaran di sekolah.

Mereka diajak praktik langsung di lapangan, sekaligus bakti sosial. Yakni, program bedah mushola. Kegiatan ini menjadi alternatif praktikum bagi siswa jurusan Desan Permodelan dan Informasi Bangunan/DPIB.

Meski praktik di luar lapangan, protokol kesehatan tetap diberlakukan ketat. Seluruh siswa bermasker, selalu menjaga jarak ketika bekerja. “Masa pandemi, tatap muka di sekolah tidak bisa. Karena itu, kita berinovasi membuat program bedah mushola. Sekolah menerjunkan siswa kelas 12 untuk praktik langsung, sekaligus kita ajak bakti sosial bedah mushola,” kata Kepala Sekolah SMKN 2 Tegalsari, Dr Umar Said didampingi guru pembimbing, Andrik Susanto di lokasi bedah mushola Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Selasa (16/2) siang.

Menurut dia, kegiatan ini menjadi solusi pembelajaran di masa pandemi. Sekaligus mengasah kepekaan siswa. “Jadi, siswa kita terjunkan ke masyarakat, sekaligus mengamalkan ilmu yang diperoleh di kelas,” jelasnya.

Menurut Umar, kegiatan bedah mushola memiliki manfaat ganda bagi siswa dan sekolah, serta masyarakat. Bagi siswa, inovasi ini menjadi praktik langsung di lapangan. Sekolah mendapat manfaat promosi gratis ke masyarakat dengan melihat kinerja siswa.

Sedangkan masyarakat mendapatkan manfaat pendampingan teknis secara gratis. “Dengan bedah mushola ini, warga juga bisa meminta jasa pendampingan teknis jika ingin membuat bangunan,” jelasnya.

Inovasi bedah mushola baru diluncurkan awal tahun 2021. Meski masih baru, sudah ada 7 mushola yang dibedah. Rata-rata setiap mushola yang dibedah membutuhkan anggaran minimal Rp 60 juta hasil swadaya masyarakat. Kehadiran siswa SMKN 2 Tegalsari memberikan jasa gratis pendampingan manajemen pembangunan, termasuk desain gambar dan tenaga.

Para siswa diterjunkan ke lapangan selama 4 minggu. Inovasi interpreneur SMKN 2 Tegalsari juga menyasar jurusan lain. Seperti, jurusan multi media dengan menawarkan jasa produksi video kreatif ke desa, jurusan batik dan tekstil dengan membuat outlet batik melibatkan siswa dan alumnus, serta jurusan agribisnis pengolahan hasil pertanian dengan membuat pusat pengolahan kopi.

“Kami menekankan pendidikan interpreneur di sekolah. Targetnya, siswa yang lulus tidak mengandalkan lowongan kerja, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” pungkasnya. Salah satu siswa, Agung mengaku mendapatkan banyak pengalaman ketika praktik lapangan membedah mushola. Selain bisa ikut bakti sosial, dirinya bisa mendapatkan tambahan ilmu di lapangan. (wir)