Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Aksi penyelundupan paket sabu digagalkan petugas Lembaga Pemasyarakatan/Lapas Banyuwangi, Kamis (11/2) sore. Tak tanggung-tanggung, barang bukti yang diamankan sebanyak 10 gram, dikemas dalam satu paket plastik.

Barang haram itu dibawa salah satu warga binaan Lapas setempat, EK, nara pidana kasus pencabulan anak dibawah umur. Terungkapnya, aksi ini berawal dari kecurigaan petugas jaga.

Sekitar pukul 15.00 WIB, EK bersama empat temannya harus masuk ke Lapas, setelah bertugas menjadi petani di lahan samping Lapas. “Sebelum empat napi, ada tujuh napi yang sudah masuk dulu dan lolos pemeriksaan petugas. Begitu giliran akan diperiksa petugas jaga, EK tiba-tiba berlari dan membuag sesuatu,” kata Kepala Lapas kelas IIA Banyuwangi Wahyu Indarto.

Pejabat yang baru beberapa hari bertugas di Banyuwangi ini menjelaskan, saat dikejar petugas, EK panik. Petugas akhirnya menemukan sebuah paket yang dibungkus lakban. Setelah diperiksa, isinya diduga kuat serbuk sabu. Warnanya putih bening. Tak ingin diperiksa sendirian, EK akhirnya bernyanyi.

Dia mengaku, sabu tersebut milik GH, napi setempat yang terjerat kasus sabu. Petugas kemudian mengamankan GH yang menempati sel kamar F8. “Kami sudah koordinasi dengan Satnarkoba Polresta Banyuwangi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kasusnya juga diserahkan ke Polresta,” jelas Wahyu.

Terkait kejadian ini, pihaknya akan memberikan sanksi tegas kepada dua napi nakal tersebut. Diantaranya, sanksi administrasi penundaan remisi selama enam bulan. Kemudian, sanksi ditempatkan pada sel khusus.

“Sanksi ini sesuai aturan yang berlaku dari peraturan Kemenkumham,” jelas mantan Kepala Lapas Pasuruan ini.

Menurut dia, dua napi itu sudah masuk tahap asimilasi. EK sehari-harinya ditugaskan merawat pertanian di dekat gedung Lapas. Sedangkan GH napi asimilasi kerajinan batik. Dia hanya tinggal satu tahun menjalani masa hukuman di LP dari enam tahun vonis hakim.

Akibat perbuatannya, dua napi tersebut harus mendapatkan hukuman baru. Kasusnya ditangani polisi unir Satnarkoba Polresta Banyuwangi.

Sementara GH membantah sebagai pemilik sabu tersebut. Dia berdalih tak kenal dengan EK, apalagi tinggalnya beda sel.

“Saya dicatut, katanya pemilik barang. Padahal saya tidak kenal dan tidak pesan sabu,” kelitnya. Sementara itu, EK kepada petugas mengaku mendapat titipan dari seseorang berambut gondrong di dekat Lapas. Bingkisan itu diminta orang misterius tersebut diberikan ke GH.

Anehnya, EK mengaku tak mendapat imbalan ketika dititipi paket sabu tersebut. “Saya hanya dititipi, tidak tahu isinya apa,” dalihnya. (wir)