Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Program vaksin massal yang digelar Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya terhadap tenaga kesehatan/nakes, menyisakan cerita lucu. Proses skrining jadi penentu seseorang bisa divaksinasi. Namun, masih banyak para nakes belum bisa divaksin karena masalah tekanan darah saat ditensi. Salah satunya, faktor kurang tidur, dan ada juga takut karena jarum suntik.

Setidaknya, ada puluhan orang terpaksa harus menunggu giliran untuk bisa mengikuti lagi program vaksin masal bagi nakes yang digelar Pemkot Surabaya di Gedung YKP Medokan Ayu.

Puluhan nakes ini terpaksa menepi untuk sementara waktu, karena tidak lolos skrining cek tekanan darah. Rata – rata masalah para nakes tersebut, mengalami hipertensi, yakni tekanan darah naik. Faktornya, dipicu karena kurang tidur, maupun ada riwayat penyakit bawaan darah tinggi. Namun, juga ada yang mengalami hipertensi, tekanan darah tiba – tiba naik, dipicu karena takut dengan jarum suntik. Seperti yang dialami Wiji,
pria berusia 55 tahun ini, nakes yang bekerja di Badan Pengamanan Fasilitas Kesehatan, BPFK mengaku, jika dirinya panik dan takut dengan jarum suntik.

Tak hanya Wiji, Ridha Faramasti, relawan rekam media di RSUD dr Soetomo ini, tidak lolos skrining karena tekanan darahnya naik, saat ditensi yang dipicu karena kurang tidur.

Sementara itu, dokter praktek, dr Christina, mengaku, ada ketakutan dengan jarum suktik saat akan dilakukan vaksinasi. Namun, pentingnya vaksinasi, yang harus dilakukan untuk meminimalisir parahnya akibat terpapar Covid-19, memaksa harus menerima disuntik jarum vaksin.

Dari hasil tensi, para nakes yang mengalami hipertensi ini, bisa kembali mengikuti skrining dan vaksinasi, setelah menunggu setengah jam hingga 1 jam, agar tekanan darah mereka kembali normal. (stady/stv)