Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) Erupsi Gunung Raung, Banyuwangi yang terus berlanjut, membuat Pemkab Banyuwangi mulai siaga. Sedikitnya 18 desa masuk kategori rawan bencana tersebut. Desa-desa itu tersebar di lima kecamatan di sekitar Gunung Raung.

Salah satu kerawanan yang paling berbahaya adalah sebarab abu vulkanik. Desa-desa yang rawan ini kebanyakan bersinggungan dengan puncak Raung. Lokasinya rata-rata dalam radius di bawah 6 kilometer.

“Aktivitas Raung terus berlanjut, statusnya level 2 atau siaga. Karena itu, kita mulai menyiapkan antisipasi jika terjadi dampak buruk akibat erupsi,” kata Dandim 0825/Banyuwangi Letkol Yuli Eko Purwanto usai rakor kesiapsiagaan bencana erupsi Raung di Makodim Banyuwangi, Kamis (4/2) siang.

Menurut Dandim, meski masuk level siaga, efek erupsi Raung tak sehebat erupsi tahun 2015. Meski begitu, pihaknya tetap siaga melakukan antisipasi. “Terutama desa-desa yang terdampak, sudah kita siapkan skenario penanganan. Warga juga kami imbau jangan termakan isu terkait erupsi ini,” tegasnya.

Sementara itu, Sekda Banyuwangi Mujiono mengatakan pihaknya menyiapkan anggaran Rp 10 miliar untuk antisipasi bencana erupsi Raung. Anggaran itu kata dia bisa ditambah jika masih kurang. Namun, langkah pertama, pihaknya melakukan sosialisasi siaga bencana ke wilayah terdampak erupsi Raung.

“Misalnyam kita cek jalur evakuasi, lokasi titik kumpul dan pos kesehatan. Lalu, persiapan dapur umum dan logistik,” tegasnya. Berbagai skenario itu, lanjutnya, sudah disiapkan sejak dini. Sehingga, ketika dampak erupsi terjadi, pihaknya tinggal melaksanakan kegiatan.

Terpisah,Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Eka Muharam mengatakan skenario pengungsian akan diubah. Sebelumnya, pengungsian dibangun di lapangan. Kini, akan diarahkan ke gedung. Salah satunya gedung sekolah.

“Kita pilih gedung sekolah karena lebih aman, terutama dari sebaran hujan abu,” jelasnya. Saat ini, pihaknya masih melakukan pemetaan gedung-gedung yang akan dijadikan lokasi pengungsian. (wir)