Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kawasan Industri Halal/KIH ini merupakan pengembangan kawasan industri di Safe N Lock yang berdiri di atas lahan seluas 410 hektare di Sidoarjo. Lahan KIH ini direncanakan mencapai 148 hektare. KIH dikelola PT Makmur Berkah Amanda.

‘’KIH adalah suatu area yang dikhususkan untuk produksi dan tempat penyimpanan produk halal. Dimana integritas suatu produk halal dijamin oleh kawasan melalui sistem dan prosedur halal yang ketat. Rencananya, kawasan ini akan dilaunching Minggu kedua Februari,’’ kata Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, saat menerima kunjungan Gubernur Nusa Tenggara Barat/NTB Zulkieflimansyah dan rombongan  di Grahadi Surabaya, Selasa (2/2).

Turut mendampingi Gubernur Khofifah, Kepala Bappeda Prov Jatim, Kepala Disperindag Prov. Jatim, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Kepala DPMPTSP Jatim, Kepala BPSDM Jatim, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim, Kepala Dinas Perhubungan Jatim, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Dirut Bank Jatim.

Sementara yang mendampingi Gubernur NTB antara lain, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Kepala Bappeda Prov. NTB, Kepala Dinas Pertanian NTB, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Kepala DPMPTSP NTB, Kepala Dinas Perdagangan NTB, Dirut Bank NTB Syariah, Ketua REI NTB.

Dihadapan Gubernur NTB, orang nomor satu di Jatim itu mempromosikan pengembangan Kawasan Industri Halal (KIH) di Jawa Timur yang diperuntukkan Industri Kecil Menengah (IKM). Menurut Khofifah, kawasan ini diharapkan mampu mendorong perkembangan industri produk halal di Indonesia.

Harapannya KIH bisa menjadikan pelaku IKM semakin bermartabat. Apalagi Provinsi Jatim backbone ekonominya yang berasal dari UMKM hampir mencapai  57 persen. “Kawasan ini berada di wilayah Sidoarjo cukup luas dan rapi. Ini disiapkan untuk IKM. Bangunannya dibuat 6 x 12 meter,. Silakan Pak Gubernur, timnya bisa mengunjungi Kawasan Industri Halal mumpung lagi di Jatim,” ajak Khofifah.

Ia menjelaskan, dengan masih besarnya kebutuhan masyarakat Indonesia akan produk halal yang masih banyak dipenuhi dari impor, maka menjadi peluang bagi Jatim untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

KIH, kata dia, memiliki fasilitas seperti sertifikasi halal, laboratorium halal, dan segala sesuatu terkait penguatan IKM. Khususnya yang berbasis kawasan industri halal. “Semua fasilitas ini untuk mendorong UKM dan IKM agar dipastikan kehalalannya dan  tembus ekspor.

Sekarang ini yang disiapkan khusus bagi pelaku IKM, tentu bisa menjawab bahwa pelaku IKM/ IKM dapat mewujudkan mimpinya untuk memiliki tempat produksi atau pabrik ,” kata gubernur perempuan pertama di Jatim.

Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat Zulkieflimansyah menyatakan ketertarikannya terhadap KIH Jatim. Pemprov NTB akan belajar dalam mengelola KIH seperti di Jatim. “Kami ingin belajar juga banyak dari Ibu Gubernur tentang Kawasan Industri Halal, dan banyak hal yang lain,” jelasnya.

Ia berharap, kedepan bisa semakin bersinergi antara NTB-Jatim. Para pengusaha dari Jatim akan disediakan lingkungan yang cukup nyaman di NTB. Terutama untuk bisnis yang membutuhkan relokasi yang lebih murah tenaga kerja dan mampu memaksimalkan sumber daya yang dimiliki NTB.

“Mudah-mudahan kolaborasi dan sinergi seperti ini bisa terus kami lanjutkan di masa yang akan datang,” pungkasnya. (bw)