Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Bank Indonesia/BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur/Jatim antara 5,3 hingga 6,3 persen pada 2021. Untuk mewujudkan upaya tersebut pihaknya sudah menyiapkan lima langkah. Penegasan itu dikemukakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Difi Ahmad Johansyah, Kamis (28/1/21).

“Ekonomi Jatim kami proyeksikan akan tumbuh antara 5,3 persen hingga 6,3 persen di tahun 2021 ini,” ujar Difi. Ia mengatakan, ada lima upaya yang bisa dilakukan untuk mengakselerasi ekonomi Jatim untuk kembali ke jalur potensialnya.

Pertama, membangun sumber pertumbuhan dan menjaga stabilitas ketahanan pangan dengan mengatur pola musim panen. Kemudian mengantisipasi dampak musim kemarau, memperkuat rantai pasok online dan logistik pangan.

Lalu meningkatkan kegiatan padat karya. “Hal ini dapat dilakukan melalui optimalisasi huli hilir dengan meningkatkan produktivitas industri hulu hilir dan UMKM serta meningkatkan daya beli sektor pertanian yang padat karya,” kata Difi.

Kedua, meningkatkan penanaman modal asing sebagai strategi dengan impact tertinggi, karena menghasilkan spillover dan multiplier, terutama peningkatan TFP (Total Factor Productivity) modal dan tenaga kerja.

Ketiga, mendorong pembangunan Proyek Strategis Nasional (Perpres No. 80/2019) ber-mutiplier besar sehingga mendorong produktifitas dan efisiensi perekonomian. Keempat, melakukan penguatan implementasi dan derajat pengawasan Izin Operasional Mobilitas dan Kegiatan Industri (IOMKI) yang Iebih ketat terhadap pertumbuhan ekonomi.

Serta yang kelima, yakni meningkatkan kapasitas UMKM melalui korporatisasi, digitalisasi dan inovasi pembiayaan.”Untuk meningkatkan kapasitas UMKM melalui korporatisasi, digitalisasi dan inovasi pembiayaan sendiri juga dapat diimplementasikan melalui program UMKM on boarding, Rumah Kurasi, dan Mantri Desa,” tandasnya.

Dikatakan pula oleh Difi, telah adanya vaksinasi Covid-19 juga berperan penting dalam menumbuhkan ekonomi Jatim.”Seiring nanti telah ada banyaknya orang yang telah divaksin, otomatis daya beli masyarakat juga akan kembali membaik, sehingga produk dalam negeri yang dihasilkan UMKM juga banyak yang beli, khususnya secara offline,” tutupnya. (bw)