Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Angka perkawinan anak selama pandemi Covid-19 tinggi. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan Provinsi Jawa Timur/Jatim, Ardiyanto, di Surabaya Jumat (29/1).

Menurut dia, secara persentase perkawinan anak ini mengalami peningkatan dibanding 2019 yang hanya 3,6 persen. Meski demikian, dari segi jumlah justru mengalami penurunan.

Pada 2019 angka pernikahan dini di Jatim sebanyak 11.211 kasus dari total 340.613 pernikahan yang tercatat di Pengadilan Agama.

Data perkawinan anak ini bisa jadi lebih sedikit dari kenyataan sebenarnya, karena kemungkinan masih terjadi pernikahan dini yang tidak tercatat alias berlangsung secara siri. Pernikahan dini yang dimaksud ialah pihak mempelai, yang melaksanakan akad masih berusia di bawah usia minimal 19 tahun seperti diatur dalam UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

Menurut Andriyanto, selain faktor ekonomi, ada beragam faktor yang mendorong terjadinya perkawinan anak di masa pandemi covid-19 ini. Namun, faktor ekonomi menjadi akar masalah terjadinya perkawinan anak. Selebihnya ada faktor budaya daerah setempat.

Untuk menekan angka pernikahan dini, Pemprov Jatim melalui DP3AK terus melakukan upaya. Salah satunya dengan menerbitkan surat edaran Gubernur Jatim tentang pencegahan pernikahan dini. Diharapkan Bupati dan Wali Kota bisa melakukan langkah pengendalian. Setidaknya tidak memperkenankan pernikahan dibawah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. (stady/stv)